Menembus Sekolah


MERDEKA MENEMBUS SEKOLAH


Terminologi sekolah pada saat ini adalah sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai kekuatan yang masif. Baik dalam segi ekonomi maupun kekuasaan. Karena orientasi sekolah bukan lagi sebuah persoalan melahirkan manusia yang paripurna sebagai wujud dari mahluk Allah yang ihsan dan khalifah di muka bumi. Tapi sekolah adalah kemasan idealisme pendidikan tapi isinya adalah mekanisme produksi yang sudah menjadi industri, karena sudah mempunyai kaidah yang disesuaikan dengan aturan hukum yang tidak melibatkan manusia sebagai mahluk Allah yang mempunyai kekayaan dan sekaligus kekurangan yang memang harus dimenimalisir.

Tapi sebagai bagiam mekanisme industri dari mekanisme produksi untuk mencetak robot yang pintar dan cerdas yang bisa dikendalikan dengan mekanis yang terprogram. Dengan begitu manusia menjadi robot yang paling canggih dari robot yang lain. Karena dengan program yang dianalogikan sebagai sekolah dan pendidikan pada umumnya itu membuat robot itu dengan sendiri akan berfungsi. Karena Pabrik (baca: sekolah) yang memproduksi manusia menjadi robot. Seperti halnya buah-buah sekarang ini sudah direduksi menjadi sari buah jeruk, anggur, apel, jambu. sirsak dan sebagainya. Dan sari buah itu seolah-olah sama dengan buah aslinya. Pada hal kalau mau diteliti lebih jauh maka sari buah itu sudah berbeda dengan buah aslinya. Karena buah aslinya itu kalau manis tidak begitu manis dan tidak membuat orang menjadi mual. Begitu juga kalau asem tidak begitu asem dalam pengerti rasa yang instan itu. Ini artinya ketika manusia diproses dalam mekanisme sekolah dengan sistem produksi yang standar baku menuru aturan yang menilai dengan mengabaikan nilai kemanusiaan, maka dengan sendiri manusia itu akan menjadi berbeda dengan manusia ketika Allah menciptakannya. Karena ruang lingkup sekolah bukan lagi ruang yang mampu menghidupkan siswa menjadi manusia, tapi membentuk menjadi bagian dari mekanisme yang dibuat manusia sendiri untuk dijadikan obyek dan sosok tubuh yang tidak ada rasa bersalah atau empati terhadap sesamanya. Karena ruang itu dibentuk sebagai sebuah sistem produksi bukan menjadi sebuah habitat manusia untuk mengembangkan dirinya sebagai mahluk Allah dengan segala kekayaan dan kekurangannya yang menjadi sebuah keindahan hidup ini untuk dirasakan dan dipikirkan agar menjadi sebuah renungan bahwa Allah itu memang menjadi sebuah realitas yang ada didalam kehidupan manusia untuk selalu diaktualisasikan bukan saja dalam ibadah yang wajib. Tapi menjadi sebuah komitmen dirinya sebagai manusia yang diamanati Allah sebagai Khalifah di muka bumi ini bukan dalan retorikan berpikir atau bicara tapi menjadi aritkulasi kehidupan realitas masyarakat untuk bisa saling melengkapkan. Karena manusia sudah diberikan kelebiha dan kekurangan agar bisa saling melingkapi dan saling membantu serta saling menjamin antara satu dengan yang lain, tanpa batas dari golongan kaya atau miskin karena semuanya bersaudara. Hanya yang membedakan adalah komintmen keimanan pada Allah.

Hal inilah yang masih terjadi didalam sekolah yang berorientasi pada ekonomi, kapital dan orangnya disebut dengan kapitalisme, bahasa filosofisnya manusia menjadi bukan modal dan dikuasai oleh modal,uang, money, fulus yang membuat manusia itu menjadi absurt, artinya sudah tidak bisa membedakan sekolah sebagai lahan dakwah dan jihad yang dianggap paling tidak mungkin, tidak realistis, sok idealisme, tidak mengikuti jaman, murahan, tidak berkwalitas, lemah, dangkal, mustahil. Sedangkan sekolah dengan bermodal money, uang, fulus itu akan menjadi sekolah yang baik dan membuah guru, kepala sekolah, pengawai merasa terjamin. Pada hal disitu kunci permasalahannya bahwa ketika sekolah menjadi berorientasi pada materi, uang, money, fullus disitulah maka terjadinya kesenjangan hidup antara manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan nilai agama sebagai lingkupan dari kehidupan manusia yang memang menjadi bagian dari kehidupannya. Karena manusia sudah lengket dengan uang, alias matre.

Untuk itu perlu ada cara pandang untuk bisa menembus sekolah sebagai bentuk institusi yang masih yang membuat manusia kehilangan orientasi kehidupan. Karena agama sebagai bagian warna dari mekanisme produksi yang formal, beku dan masif. Sehingga tidak bisa menjadi daya tembus bagi kehidupannya dan pendidikan itu sendiri.

Untuk itu Islam adalah satu agama yang membawa manusia pada kehidupan yang Rahmatan lil’allamin, untuk semua manusia dimuka bumi. Dengan cara mengaaktualisasikan Islam dengan kemudahan tanpa mengampangkan, tidak menyulitkan tanpa mempersulit sehingga sesuai dengan fitrah manusia untuk bisa lihat dan dirasakan. Begitu juga ketika dipikirkan dan direnungkan akan mencapai keindahan serta hakekat kehidupan yang sebenarnya. Bahwa Islam itu adalah agama yang menjadi pedoman hidup manusia. Dengan sendirinya menjadi kehidupan yang selalu mewarnai. Sehingga kalau Merdeka Sekolah dengan berbagi, menjadi bagian dari semua orang dan rakyat pada umumnya, bukan saja sebagai bentuk partisipatoris yang aktif, tapi juga bisa menjadi komunitas yang dapat membangun dan melahirkan masyarakat yang mempunyai relasi kehidupan manusia antara satu dengan yang lain. Untuk bisa saling membantu dan berbagi menjadi bentuk jamaah yang tidak perlu dibentuk tapi memang terbentuk dari fitrahnya sendiri. Biasanya kalau jamaah yang di bentuk berdasarkan hal yang lain, tidak alami maka dengan sendirinya akan mengalami kehancuran. Karena bentuk alami itu adalah kesungguh dan kerinduan akan keindahan Islam itu terwujud dalam bentuk suprastruktur dan infrasutruktur akan lahir dengan sendirinya dan mempunyai kekuatan yang sangat alami. Karena peranan Allah di dalam kehidupan itu sendiri sangat terasa.

Tapi ada satu puncaknya yang menjadi satu cobaan didalam merangkai dan meracut keindahan Islam dalam berjamaah itu adalah keberhasilan. Di mana cobaan itu yang paling berat bagi kehidupan umat Islam. Sejarah telah membuktikan kejayaan Islam itu redup karena pemimpinnya berlimbahan harta dan haus akan kekuasaan serta merasa setiap orang paling hebat dan berjasa dalam perjuangan keberhasilan itu. Hal itu juga yang terjadi dengan SDIT Aghniya Ilman, dalam kesusahan begitu solit dan ulet, tapi ketika ada secerca cahaya kemilau yang diwarnai lahah yang luas gedung yang tinggi, dengan segala macam itu melupakan apa yang menjadi kebutuhan manusia untuk saling berbagi agar menjadi kuat dan kaya. Tapi menjadi lemah dan miskin kemerdekaan.

Hal ini juga berlaku pada MERDEKA SEKOLAH sebuah kekuatan yang dibangun dari kepeduliah, komintmen pada perjuangan, jihad dan dakwah untuk selalu berbagi dan membuka peluang yang seluas-luasnya pada setiap orang untuk berpartisipasi, karena Merdeka punya orang yang Merdeka. Bukan punya orang kaya, orang mapan atau orang miskin dan bodoh. Tapi punya orang yang tahu tujuan hidup ini bukan karena uang ada di hati dan di jiwa. Tapi ada digenggaman tangan untuk selalu dibagi sehingga menjadi relasi dan perekat yang mampu membentuk komunitas sehingga memberikan banyak kemungkinan pada setiap orang dan rakyat untuk bisa menumbuhkan dan mengembangkan diri sendiri, sehingga mampu menghidupkan dirinya sendiri. Dengan cara berbagi dengan saudaranya sendiri, itu adalah kehidupan rakyat yang Merdeka. Untuk selalu bisa menembus sebuah kehidupan yang masif dengan segala materi, jabatan, keturunan, suku bangsa, kehormatan yang palsu, kemuliaan yang dibuat-buat alias sok jaim. (Aru)

2 thoughts on “Menembus Sekolah

  1. MEMBONGKAR KEJAHATAN SEKOLAH

    Sekolah menjadi sebuah institusi yang membentuk anak atau sesorang menjadi kehilangan kepribadian dirinya. Hal itu disebabkan anak direduksi menjadi obyek dan diklasifikasikan menjadi anak yang pintar, bodoh, nakal, malas dan sebagainya. Dengan adanya itu anak yang mempunyai nilai buruk menjadi termarjinalisasi. Sedangkan anak yang mempunyai nilai baik menjadi kekuatan sistem kontrol dari sekolah yang membuat dirinya harus bisa memenuhi keinginan dari sistem sekolah yang dibangun bukan untuk menjadi manusia yang berkepribadian tapi menjadi representasi dari sekolah terbaik, kalau bukan unggulan atau sekolah berstandart nasional kalau bukan internasional. Upaya itu di lakukan dengan tatanan pendidikan yang menekankan pada sistem kontrol yang begitu ketat.

    Itu semua dibangun dalam sebuah kesadaran masyarakat itu bagian dari sebuah sistem dan aturan dari sebuah kehidupan sosial dan bangsanya. Kalau mau ditelusuri lebih jauh sebenarnya semua yang dibangun itu berdasarkan konspirasi atau dalam teori hegemoni, bahwa masyarakat sudah begitu mudah untuk menerima sistem kapitalisme dan sosialisme sebagai bagian dari kehidupan modern yang berdemokrasi dan dipenuhinya sebagai kehidupan materi yang baik. Karena masyarakat lebih berorientasi pada masalah hidupan materi yang berkecukupan. Dengan begitu bisa dirasakan hal itu menjadi sebuah kehidupan yang lebih baik, sehingga kehidupan yang lebih benar selalu diidentikan dengan kebaikan materi.

    Pada dibalik itu masyarakat sudah kehilangan nilai dan ideologi kehidupannya sebagai manusia. Yang selalu merindukan sebuah masalah lalu yang mengantarakan kita pada kesadaran pada keberadaan diri kita dihadapan Allah. Bahwa masa lalu adalah masa depan kehidupan manusia yang hakiki. Bahwa kebaikan dalam hidup ini sama artinya nilai kebenaran itu mewarnai kehidupan masyarakatnya. Di mana nilai agama menjadi titik tolak sejarah dan masa depan kehidupan sebuah masyarakat, bangsa dan umat manusia di dunia ini. Hal ini yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Barat. Yang kembali mencari hakikat dirinya, yaitu fitrah manusia untuk mencari nilai agama yang benar.

    Karena sekolah salah satu media yang terselubung sebuah kejahatan yang tidak pernah disadari oleh semua orang. Karena hal itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari mekanisme dan sistem yang menjadi sebuah nilai dan norma kehidupan seseorang dan masyarakat pada umumnya.

    Bahwa bentuk kejahatan itu adalah Pengetahuan yang hanya mengklasifikasikan pada orang yang pintar dan bodoh, kaya miskin, normal tidak normal, yang sudah menjadi hukum bagi sekolah. Untuk itu tidak aneh kalau ada sekolah buat orang pintar, sekolah unggulan. Sekolah buat orang kaya, sekolah fasilitasnya berstandart internasional sekolah. Sekolah buat orang bodoh adalah sekolah yang tidak ada fasilitasnya. Buat orang miskin cukup madrasah saja. Untuk itu tidak heran madrasah sebagai bentuk marjinalisasi umat Islam yang tidak mau memakai sistem kapitaslisme yang beroreintasi pada materi sebagai bentuk kebaikan dan kebenaran di dalam pendidikan. Sedangkan madrasah berdasarkan nilai hakikat dari kehidupan manusia menjadi citra kebodohan dan keterbelakangan. Hal ini yang masih merasuk dalam benak alam bawah sadar masyarakat dan bangsa ini, meskipun itu sudah menjadi perhatian, tapi hal itu hanya sebagai bagian dari mekanisme yang memang harus dikerjakan, kalau bukan sebagai lipstik dari kaum politis di dalam pencitraaan pada kehidupan masyarakatnya. Karena kekuasaan mempunyai tabiat yang selalu memarjinalisasikan nilai kebenaran yang menjadi sinar kehidupan manusia karane Allah yang memberikan pada rakyat dan setiap bangsa. Sekolah menjadi representasi dari tabiat yang tidak baik yang selalu ditampakan oleh para pejabat, pengurus yayasan, kepala sekolah, guru yang seharusnya mempunyai tanggung jawab besar itu menganggkat masyarakat yang termarjinalkan oleh sistem yang kapitalistik dan sosialistik. Karena orintasi pada henonisme dan materi yang hanya diperjuangkan, membuat manusia kehilangan asal usul kehidupannya. Ditambah dengan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang membuat sistem kontrol yang tidak memperhatiakan nilai kemanusiaan, seperti ujian nasioanl adalah hanya kebutuhan untuk data dan materi pencapaian secarai kuantitatif.

    Inilah kejahatan yang nyata dalam sekolah yaitu penyala gunaan ilmu pengetahuan untuk mengukur kehidupan manusia. Kejahatan kekuasaan sekolah menjadikan manusia termarjinalisasikan. Sedangkan tatanan sekolah yang katanya seni mendisplinkan anak itu menjadi indikator kebaikan merupakan kontrol sistemik yang membuat manusia menjadi obyek dan robot yang diprogram dengan kurikulum yang berbasis kompetensi, yaitu kerja, buruk, budak, pejabat atau politikus yang tidak ada empatinya terhadap rakyat. Kata dan kalimat kotor yang dipertontonkan pada rakyat digedung DPR menjadi jelas dari kejahatan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s