Penyakit Sekolah


PENYAKIT SEKOLAH, PENYAKIT IDENTIK


Penyakit yang muncul di dalam diri kita sebagai orang tua di dalam melihat anak adalah mengindentik anak dengan pengalaman hidupnya, sehingga kita sebagai orang tua tidak bisa melihat ada yang sebenarnya. Karena anaknya sudah tidak ada, anak yang dilihat bukan anak yang sebenarnya anak itu yang tumbuh berkembang dengan dunianya. Tapi anak bayang-bayang dirinya yang selalu mengelayut dan menghantuinya sebagai bagian dari kehidupannya. Hal ini yang menjadi persoalan bagi anak bahwa apa yang dipekirkan orang tuanya menghambat pertumbuhan dunia anak. Karena anak ditangkap dalam bayang-bayang yang tidak menentu. Seperti penyakit oudipus compleks.

Begitu juga apa yang menjadi sistem pendidikan sekolah yang ada sekarang ini bahwa anak sudah kehilangan segala-galanya, baik fisik maupun jiwanya. Keberedaan dirinya sebagai orang anak sudah tidak ada lagi. Karena di-identikkan oleh sekolah sebagai aset yang menguntungkan buat sekolah sebagai mesin uang yang harus diproduksi dengan berbagai macam caranya dengan lipstik pendidikan yang modern dengan menyajikan trik-trik pertunjukkan yang sangat membosankan sebagai bentuk penyakit kepercayaan diri yang berlebihan membuat dirinya menjadi kepribadian yang terpecah, split personalit. Membuat sekolah itu tidak melihat anak sebagai manusia yang mempunyai banyak kemungkinan.

Karena anak sudah di-identikan pada metode-metode yang paling canggih, yang disebut dengan quantum learning, contekstual learning, super learning, future learning. Guru tidak lagi bukan melihat anak sebagai manusia tapi obyek yang dapat diprogram sesuai dengan visi sekolah yang tendesius. Untuk bisa menjadikan mesin uang. Sehingga tidak ada lagi hubungan manusia sebagai manusia baik antara guru dengan murid, guru dengan guru, guru dengan orang tua murid, guru dengan kepala sekolah, kepala sekolah dengan yayasan, orang tua murid dan pemerintah. Dan pemerintah melihat anak dengan keperberhasilakan ujian nasional, bukan sebagai anak dengan segala macam persoalan dan latar belakang budaya yang membuat diri anak tidak mengerti di dalam memahami kehidupan sosial yang dibentuk orang para orang tua. Karena semuanya sudah merubah dirinya menjadi sebuah instrumental dari mekanisme pendidikan yang diciptakan sendirinya. Membuat hati nurani sudah tidak lagi berfungsi sesuai dengan fitrah kehidupan manusia. Yang diciptakan Allah sebagai sesuatu yang menjadi kontrol kehidupannya.

Penyakit identik sudah menjadi wabah yang menjadi penyakit sekolah. Untuk itu perlu adanya perubahan sekolah menjadi sesuatu yang lain yang harus dimusnahkan. Layakan flu burung dimana wabah yang dibawa hewan, maka hewan itu harus dimusnakan agar tidak menjalar lebih parah lagi. Begitu juga dengan dunia pendidikan sekolah menjadi wabah yang harus dimusnahkan untuk memutus terjangkitnya sebuah penyakit tersebut.

Karena pola berpikir masyarakat yang terjadi sekarang merupaka prodak dari sekolah dimana dia menjalani sebuah proses pendidikan. sehingga banyak alternatif pendidikan yang dikembangkan pada saat ini. Yaitu pendidikan kaum tertindak, pendidikan tanpa sekolah, home schooling, Merdeka Sekolah untuk bisa mengakselerasi pendidikan madrasah yang begitu unik dan penuh dengan makna, menjadi kata kunci kemerdekaan di dalam pendidikan, seperti apa yang terjadi dalam tradisi Islam di dalam dunia pendidikan yang menyatu dengan kehidupan dan nilai keyakinan yang luhur dan sublim.

Membuat pendidikan itu mengantarkan umat Islam pada kehidupan yang cemerlang dengan peradaban yang tinggi. Dan tidak bisa ditutup-tutup dengan apapun juga, baik dengan cara penjajahan, pembantaian, kekuasaan, imprealisme, kapitalisme, hegomoni, hedonisme, menghalalkan segala macam cara. Tidak akan pernah padam selama pendidikan itu penyangkut fitra kehidupan manusia yang menjadi kunci dari kehidupan yang diciptakan Allah tidak akan pernah hilang. Dan hal itu selalu sejalan dengan kebutuhan akan cahaya kebenaran yang selalu dilantunkan dalam kitab suci Al quran.

Penyakit identik sebaga wabah yang harus selalu diwaspadi oleh kita semua untuk menjadi pendidikan menjadi lebih beradab. (Tri A)

One thought on “Penyakit Sekolah

  1. MERDEKA MENEMBUS SEKOLAH

    Terminologi sekolah pada saat ini adalah sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai kekuatan yang masif. Baik dalam segi ekonomi maupun kekuasaan. Karena orientasi sekolah bukan lagi sebuah persoalan melahirkan manusia yang paripurna sebagai wujud dari mahluk Allah yang ihsan dan khalifah di muka bumi. Tapi sekolah adalah kemasan idealisme pendidikan tapi isinya adalah mekanisme produksi yang sudah menjadi industri, karena sudah mempunyai kaidah yang disesuaikan dengan aturan hukum yang tidak melibatkan manusia sebagai mahluk Allah yang mempunyai kekayaan dan sekaligus kekurangan yang memang harus dimenimalisir. Tapi sebagai bagiam mekanisme industri dari mekanisme produksi untuk mencetak robot yang pintar dan cerdas yang bisa dikendalikan dengan mekanis yang terprogram. Dengan begitu manusia menjadi robot yang paling canggih dari robot yang lain. Karena dengan program yang dianalogikan sebagai sekolah dan pendidikan pada umumnya itu membuat robot itu dengan sendiri akan berfungsi. Karena Pabrik (baca: sekolah) yang memproduksi manusia menjadi robot. Seperti halnya buah-buah sekarang ini sudah direduksi menjadi sari buah jeruk, anggur, apel, jambu. sirsak dan sebagainya. Dan sari buah itu seolah-olah sama dengan buah aslinya. Pada hal kalau mau diteliti lebih jauh maka sari buah itu sudah berbeda dengan buah aslinya. Karena buah aslinya itu kalau manis tidak begitu manis dan tidak membuat orang menjadi mual. Begitu juga kalau asem tidak begitu asem dalam pengerti rasa yang instan itu. Ini artinya ketika manusia diproses dalam mekanisme sekolah dengan sistem produksi yang standar baku menuru aturan yang menilai dengan mengabaikan nilai kemanusiaan, maka dengan sendiri manusia itu akan menjadi berbeda dengan manusia ketika Allah menciptakannya. Karena ruang lingkup sekolah bukan lagi ruang yang mampu menghidupkan siswa menjadi manusia, tapi membentuk menjadi bagian dari mekanisme yang dibuat manusia sendiri untuk dijadikan obyek dan sosok tubuh yang tidak ada rasa bersalah atau empati terhadap sesamanya. Karena ruang itu dibentuk sebagai sebuah sistem produksi bukan menjadi sebuah habitat manusia untuk mengembangkan dirinya sebagai mahluk Allah dengan segala kekayaan dan kekurangannya yang menjadi sebuah keindahan hidup ini untuk dirasakan dan dipikirkan agar menjadi sebuah renungan bahwa Allah itu memang menjadi sebuah realitas yang ada didalam kehidupan manusia untuk selalu diaktualisasikan bukan saja dalam ibadah yang wajib. Tapi menjadi sebuah komitmen dirinya sebagai manusia yang diamanati Allah sebagai Khalifah di muka bumi ini bukan dalan retorikan berpikir atau bicara tapi menjadi aritkulasi kehidupan realitas masyarakat untuk bisa saling melengkapkan. Karena manusia sudah diberikan kelebiha dan kekurangan agar bisa saling melingkapi dan saling membantu serta saling menjamin antara satu dengan yang lain, tanpa batas dari golongan kaya atau miskin karena semuanya bersaudara. Hanya yang membedakan adalah komintmen keimanan pada Allah.

    Hal inilah yang masih terjadi didalam sekolah yang berorientasi pada ekonomi, kapital dan orangnya disebut dengan kapitalisme, bahasa filosofisnya manusia menjadi bukan modal dan dikuasai oleh modal,uang, money, fulus yang membuat manusia itu menjadi absurt, artinya sudah tidak bisa membedakan sekolah sebagai lahan dakwah dan jihad yang dianggap paling tidak mungkin, tidak realistis, sok idealisme, tidak mengikuti jaman, murahan, tidak berkwalitas, lemah, dangkal, mustahil. Sedangkan sekolah dengan bermodal money, uang, fulus itu akan menjadi sekolah yang baik dan membuah guru, kepala sekolah, pengawai merasa terjamin. Pada hal disitu kunci permasalahannya bahwa ketika sekolah menjadi berorientasi pada materi, uang, money, fullus disitulah maka terjadinya kesenjangan hidup antara manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan nilai agama sebagai lingkupan dari kehidupan manusia yang memang menjadi bagian dari kehidupannya. Karena manusia sudah lengket dengan uang, alias matre.

    Untuk itu perlu ada cara pandang untuk bisa menembus sekolah sebagai bentuk institusi yang masih yang membuat manusia kehilangan orientasi kehidupan. Karena agama sebagai bagian warna dari mekanisme produksi yang formal, beku dan masif. Sehingga tidak bisa menjadi daya tembus bagi kehidupannya dan pendidikan itu sendiri.

    Untuk itu Islam adalah satu agama yang membawa manusia pada kehidupan yang Rahmatan lil’allamin, untuk semua manusia dimuka bumi. Dengan cara mengaaktualisasikan Islam dengan kemudahan tanpa mengampangkan, tidak menyulitkan tanpa mempersulit sehingga sesuai dengan fitrah manusia untuk bisa lihat dan dirasakan. Begitu juga ketika dipikirkan dan direnungkan akan mencapai keindahan serta hakekat kehidupan yang sebenarnya. Bahwa Islam itu adalah agama yang menjadi pedoman hidup manusia. Dengan sendirinya menjadi kehidupan yang selalu mewarnai. Sehingga kalau Merdeka Sekolah dengan berbagi, menjadi bagian dari semua orang dan rakyat pada umumnya, bukan saja sebagai bentuk partisipatoris yang aktif, tapi juga bisa menjadi komunitas yang dapat membangun dan melahirkan masyarakat yang mempunyai relasi kehidupan manusia antara satu dengan yang lain. Untuk bisa saling membantu dan berbagi menjadi bentuk jamaah yang tidak perlu dibentuk tapi memang terbentuk dari fitrahnya sendiri. Biasanya kalau jamaah yang di bentuk berdasarkan hal yang lain, tidak alami maka dengan sendirinya akan mengalami kehancuran. Karena bentuk alami itu adalah kesungguh dan kerinduan akan keindahan Islam itu terwujud dalam bentuk suprastruktur dan infrasutruktur akan lahir dengan sendirinya dan mempunyai kekuatan yang sangat alami. Karena peranan Allah di dalam kehidupan itu sendiri sangat terasa.

    Tapi ada satu puncaknya yang menjadi satu cobaan didalam merangkai dan meracut keindahan Islam dalam berjamaah itu adalah keberhasilan. Di mana cobaan itu yang paling berat bagi kehidupan umat Islam. Sejarah telah membuktikan kejayaan Islam itu redup karena pemimpinnya berlimbahan harta dan haus akan kekuasaan serta merasa setiap orang paling hebat dan berjasa dalam perjuangan keberhasilan itu. Hal itu juga yang terjadi dengan SDIT Aghniya Ilman, dalam kesusahan begitu solit dan ulet, tapi ketika ada secerca cahaya kemilau yang diwarnai lahah yang luas gedung yang tinggi, dengan segala macam itu melupakan apa yang menjadi kebutuhan manusia untuk saling berbagi agar menjadi kuat dan kaya. Tapi menjadi lemah dan miskin kemerdekaan.

    Hal ini juga berlaku pada MERDEKA SEKOLAH sebuah kekuatan yang dibangun dari kepeduliah, komintmen pada perjuangan, jihad dan dakwah untuk selalu berbagi dan membuka peluang yang seluas-luasnya pada setiap orang untuk berpartisipasi, karena Merdeka punya orang yang Merdeka. Bukan punya orang kaya, orang mapan atau orang miskin dan bodoh. Tapi punya orang yang tahu tujuan hidup ini bukan karena uang ada di hati dan di jiwa. Tapi ada digenggaman tangan untuk selalu dibagi sehingga menjadi relasi dan perekat yang mampu membentuk komunitas sehingga memberikan banyak kemungkinan pada setiap orang dan rakyat untuk bisa menumbuhkan dan mengembangkan diri sendiri, sehingga mampu menghidupkan dirinya sendiri. Dengan cara berbagi dengan saudaranya sendiri, itu adalah kehidupan rakyat yang Merdeka. Untuk selalu bisa menembus sebuah kehidupan yang masif dengan segala materi, jabatan, keturunan, suku bangsa, kehormatan yang palsu, kemuliaan yang dibuat-buat alias sok jaim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s