Menembus Pendidikan


MENEMBUS SEKOLAH DENGAN PENDIDIKAN

Banyak orang tua menyekolahkan anak-anak semata-mata menjadi kewajiban dari mekanisme sosial ekonomis. Sehingga oreintasi sekolah bukan lagi mendidikan dan memberikan kesempatan anak untuk bagaimana belajar dan bagaimana berpikir.

Karena ini yang sebenarnya cara kita di dalam menembus sekolah dengan pendidikan, bahwa anak diberikan kesempatan untuk menemukan bagaimana anak harus belajar dengan caranya sendiri dan bagaimana berpikir dengan caranya sendiri. Untuk itu orang tua perlu memahami dunia anak-anak dengan segala permasalahannya. Karena anak sekolah bukan karena anak ingin sekolah, tapi karena keinginan orang tuanya, agar orang tuanya tidak disalahkan oleh norma sosial dan kewajibannya orang tua. Keinginan orang tua menyekolahkan anak didasarkan pada cara pandang orang tua bukan cara pandang anak. Hal ini yang menjadi kegagalan pendidikan anak-anak disekolah. Anak menjadi pinter dan cerdas karena dibentuk bukan lahir darinya sendiri. Anak menjadi pinter dan cerdas karena nilai rapot bukan karena cara berpikir anak di dalam melihat permasalahan kehidupan yang dia hadapi. Jadi banyak anak yang malas, bodoh, kurang acara, tidak tahu sopan santun kalau dinilai dari kurikulum, angka rapot, dan inginan guru menargetkan anak seperti apa yang diingikan guru, sekolah dan pemerintah. Sehingga kalau anak belajar dengan caranya sendirinya dan berpikir dengan caranya sendiri. Orang tua, guru, sekolah menganggap anak ini tidak pernah belajar dan berpikir. Karena yang dilihatnya anak itu hanya bermain dan bermain yang kadang membuat orang tua, guru, sekolah merasa malu dengan prilaku anak yang hanya sukanya main. Karena anaknya takut bodoh dan nakal yang hanya membuat malu orang tua, guru dan sekolah yang dianggap gagal dalam mengajarkan anak menjadi lebih baik. Pada hal selama ini belum ada sekolah yang dapat mendidikan anak menjadi pinter dan cerdas. Karena yang diterima lembaga sekolah selalu melalui proses seleksi, sehingga anak yang memang pinter dan cerdas bisa diterima sekolah itu, tapi kalau anak yang tidak bisa tidak bisa diterima. Maka terjadi polarisasi anak-anak pinter, cerdar dengan anak yang kurang pintar dan cerdas, sehingga ada sekolah terbelakang, sekolah pas-pasan, bukan sekolah berstndar nasional dan internasional. Hal ini yang terjadi di Merdeka Sekolah banyak orang tuanya terhera-heran melihat anaknya yang kalau diperiksa bukunya tidak ada tulisan dan hasil dari belajar. Apakah sekolah ini hanya memberikan anak-anak main saja dengan dunianya. Begitu juga anak kalau dirumahanya tidak bisa diam, dia membuat bangku dan meja tamu menjadi rangkai untuk mencoba nyalinya. Membuat orang tua was-was.Apakah disekolah hanya belajar mencoba nyalinya dengan segala resikonya. Ada anaknya yang begitu empati terhadap permasalahan orang tuannya. Membuat anak tidak mau repotkan orang tuanya. Dia belajar sendiri, entah apa yang dipelajari. Karena orang tuanya tidak tahu apa yang dikerjakan anaknya. Kalau melihat bukunya dan orang ketahuan. Maka anak akan menegur orang tuanya tidak boleh membuka tasnya tanpa seinzin dirinya, itu perbuatan dosa. Lain lagi dengan orang tua yang mengeluh anaknya tidak bisa diam dan selalu menghadapi resiko yang membuat dirinya menjadi terluka dan membuatnya menjadi was-was kalau melihat tingkah lakunya yang selalu mengambil resiko bagi dirinya. Menurut pandangan orang tuanya. Sedang ada orang tua yang bengung dengan pertanyan-pertanyaan dan cara berbicara anaknya yang sok tua, membuat dirinya menjadi kwatir dengan pertumbuhannya. Karena berbicaranya kadang membuat dirinya menjadi orang tua yang selalu merasa bersalah. Tapi semua itu menjadi lain ketika anak-anaknya menerima rapot dan hasil ujiannya yang bagus dengan rata-rata kelas delapan. Membuat orang tua tidak percaya dan tidak mengerti. Karena apa yang selama ini diamati orang tua terhadap anak-anaknya, anaknya tidak pernah belajar kalau dilihat dari cara pandang orang tua bukan cara pandang anak. Karena kalau cara pandang anak mulai dari bangun tidur dan kembali tidur anak terus belajar dan belajar, serta mengasah pikiran untuk selalu berpikir dan banyak yang dipikirkan dengan caranya sendiri. Hal ini yang kelihatnya belum ketemu cara berpikir orang tua, guru, sekolah dan stckholder di dalam melihat pendidikan anak. Karena yang dilihat dari satu kaca mata orang dewasa. Yang mengikentifikasika anak pada cara pandang orang dewasa didalam melihat pendidikan anak. Sehingga sekolah tidak mampu menembus pendidikan yang sebenarnya dan pendidikan sekolah terhadap anak selama ini. (Aru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s