Sebisaku


SEKOLAH BIASA

Suasana ruang pertemuan antar kepala Sekolah MI se Kabupaten riuh dengan saling sapa, peluk dan perbincangan antar Kepala Sekolah yang telah hadir. Ada yang saling tertawa dan bercanda, ada yang serius membicarakan pengembangan sekolahnya dan berbagai aktivitas lainnya terjadi dan membaur menghangatkan suasana. Tak lama berselang seorang lelaki dengan merunduk menuju tempat duduk yang telah disediakan. Dan tiba-tiba seorang kepala Sekolah MI Patriot menghampiri lelaki sederhana itu.

‘Kamu Arman Yusuf ya!?’ tanya pak Markum Kepala Sekolah MI Patriot penuh tannya. ‘Subhanalloh, kamu Markum ?!’ tanya balik lelaki bergamis itu. Mereka berpelukan beberapa saat sambil menepuk punggung bersilangan. ‘Sekarang kamu dimana tugasnya Man, sudah  tahun sejak lulus dari IKIP kita tidak pernah kontak dan sekarang alhamdulilah kita dipertemukan Alloh disini’, tanya pak Markum lagi. Dengan senyum dan perilaku kalemnya Pak Arman menjawab ‘Alhamdulilah, sekarang saya dipercaya untuk membantu memimpin MI Merdeka di wilayah Bonang. Baru sih, baru 3 tahun ini sekolah itu jalan dan saya juga baru tahun ini dipercaya untuk membantu jadi Kepala Sekolahnya. Kalau sebelumnya saya yah kerja srabutan bantu sana-sini untuk mengamalkan ilmu yang sedikit ini. Kalau kamu sendiri gimana Kum?. ‘Ah.,  samalah kita, saya menjadi Kepala Sekolah di MI Patriot, lumayan sih sudah 4 tahun ini. Dan alhamdulilah murid dan prestasi sekolahnya bisa dibanggakan. Kok saya baru denger nich sekolahan MI Merdeka Man?’ pinta penjelasan Pak Markum. Sambil kembali menebar senyum Pak Arman menjelaskan ‘Iya Kum, ini sekolahan memang baru, bisa dibilang sekolah biasalah, gedung juga belum punya kok. Kebetulan ada temen yang punya rumah kosong, dia pindah ke luar pulau jadi rumahnya kosong terus dipinjemkan ke  sekolah. Intinya ini sekolah biasa lah Kum, pokoknya anak-anak bisa sekolah, bisa lebih baik aja daripada tidak sekolah. Kalau Sekolahanmu hebat ya Kum?. ‘Begitulah, walau semua ini juga melalui perjuangan dan proses yang panjang. Sejak saya jadi Kepala Sekolah saya rombak semua manajemen disana. Saya mendatangkan  konsultan pendidikan, dan mendapatkan banyak bantuan baik dari pemerintah (Depag) maupun dari NGO dan orang-orang kaya, sehingga bisa mensuport kebutuhan pengembangan pendidikan Man. Kalau kamu memang berminat untuk mengembangkan sekolanmu aku siap bantu kok. Kita saling bantu lah, nanti saya tunjukkan jalan-jalannya’ jelas Paka Markum.

‘Terimakasih Kum, atas perhatianmu. Siapa sih yang tidak pingin sekolahnya maju Kum, namun pertimbangan-pertimbangan tertentu dan kondisi terkadang capaian tujuan itu tidak serta merta dapat dilaksanakan’ imbuh Pak Arman kalem.  ‘Man, sekolah akan berkembang apabila  dikelola dengan profesional dan ma’af sekarang harus profit motif  Man. Itu yang menjadi salah satu pemicu kita untuk maju. Rekruitmen siswa dengan pilihan murid yang berkualitas, masuk SD harus sudah bisa baca tulis dan berhitung, tambahan lagi sudah loloa iqro’. Kalau kita bisa mendapatkan bahan yang baik maka akan menghasilkan lulusan yang baik. Ini modal utama Man, kalau siswa kita dapat lulus 100 %, banyak yang diterima di SMP favorit maka akan meningkatkan jumlah anak didik tahun-tahun berikutnya. Nah setelah itu saya lakukan 3 tahun, alhamdulilah sekarang saya kewalahan menerima murid dan rencana mau buka MI Patriot II di Bitung. Kalau sekolah berprestasi bantuan ngalir terus Man, ini semua berimbas pada gaji guru yang menjadi lebih tinggi, asset yayasan semakin besar. Itu yang saya lakukan Man, saya tahu kamu Man, kalau kamu mau saya sakin kamu bisa’ urai Pak Markum panjang lebar untuk mengajak Pak Arman mengembangkan sekolahnya.

Sambil penuh perhatian Pak Arman memperhatikan uraian tersebut, dan menghela nafas panjang dan berujar,’Itu ide yang bagus Kum, namun konsep dan falsafah pendidikan yang coba saya kembangkan bersama temen-temen ini agak berbeda dengan yang kamu kembangkan. Terus terang saya prihatin dengan cara-cara pengembangan pendidikan yang kayak kamu lakukan itu. Bukan berarti itu salah, tidak Kum, namun saya ingin  menawarkan warna lain dari yang sudah ada.  Konsep sekolahan yang saya kembangkan ini sangat sederhana kok Kum. Saya menawarkan pendidikan partisipatoris, berbasis pendidikan berbagi dengan pendanaan yang berasal dari infak, sedekah dan zakat itupun bagi yang mampu. Sedangkan bagi yang tidak mampu ya digratiskan. Memang bisa dibilang sekolah ditempat saya ini sekolahnya anak-anak yang sisa-sisa, misalnya tidak bisa diterima di sekolahan kayak punyamu, terus anaknya biasa-biasa belum bisa baca tulis, yah pokoknya asal udah usia sekolah dia datang kesekolah saya ya diterima. Saya kasihan Kum, kalau anak-anak belum pandai itu tidak bisa sekolah karena memang kemampuan akademiknya tidak memenuhi, kalau mereka tidak ada wadah sekolah terus mau jadi apa dia. Inget kan Kum bahwa Unesco saja slogannya ‘Education for All’ tapi masih ada diskriminasi kesempatan belajar gara-gara IQ, ESQ, MI dll, sungguh ini menurut saya pengingkaran hak pendidikan bagi setiap manusia Kum. Saya juga menyadari bahwa tidak semua anak bisa sekolah ditempat saya, karena kelas yang terbatas dan kebetulan memang yang sekolah ditempat saya itu tidak banyak, paling 1 kelas 2 kelas saja tiap angkatan. Saya juga tidak menggantungkan target yang muluk-muluk dalam pendidikan ini Kum. Cukup menjadikan anak lebih beradab dibanding seandainya dia tidak sekolah. Anak-anak ditempat saya masih ada yang belum bisa baca tulis, masih sering  jualan ke pasar, dan keramaian jika tidak punya uang, yah inilah pendidikan yang seadanya Kum. Tentu ini bukan upaya untuk memundurkan orang pada tingkat keapa adanya, namun malah sebaliknya. Agar anak-anak itu nantinya menjadi orang yang berarti, bermanfaat baik untuk dirinya, keluarganya hingga orang lain. Sekolah saya bukan kumpulan orang susah, bukan kumpulan orang bodho, namun kamunitas manusia biasa yang ingin berubah dan berarti’

Pak Markum termenung tak ada komentar, sesekali nampak keheranan dari  keningnya. ‘Kum, inilah jalan yang coba saya rintis, terimakasih atas semua bantuanmu. Pendidikan saat ini tidak bisa dipungkiri telah membentuk strata-strata , ini lumrah dan tidak salah. Kebetulan saat ini kamu diberikan amanah untuk mengelola sekolah dilevel Favorit, dan berkelas, sedangkan saya di level apa adanya dan biasa-biasa aja. Do’akan aku ya Kum semoga saya bisa mengelola sekolah yang biasa-biasa saja ini.’ lanjut Pak Arman mengakhiri perbincangan indah tersebut.

MC telah menginformasikan kepada seluruh kepala sekolah MI untuk segera berkumpul untuk memulai acara Pertemuan Kepala Sekolah MI se Kabupaten Tangerang  TA. 2009.  (Tanda S.)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s