Pendidikan Parsipatoris


 

Seekor Sapi yang Disembelih sebagai Kurban

PENDIDIKAN PARTISIPATORIS

(Madrasah Merdeka Berkorban)

Hari Raya Idul Qurban juga menjadi bagian dari kegiatan Merdeka Sekolah dengan mengorbankan sapi. Dalan kegiatan ini semua terlibat dalam kegiatn Qurban, mulai dari sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, staf administrasi sekolah, siswa, orang tua murid, yayasan, masyarakat dan Pak RT Jaya Wijaya, yang mengantarkan siswa Merdeka Sekolah dan gurunya kewilayahnya.

Pak RT Jaya Wijaya ini mengantarakan anak-anak Merdeka sekolah untuk membagi kupon Qurban kewarganya, di mana wilayah warga RT Merdeka Sekolah cukup luas, meskipun jumlah penduduknya hanya 75 KK. Karena perjalanannya mulai dari jalan besar, menyebrang jalan, menyelusurui kampung dan pematang sawah, berjalan diantara jalan sempit dengan rumah yang saling berdesakan. Begitu juga belahan rumah yang dibatasi dengan sawah dan tanah kosong luas. Membuat perjalanan anak-anak Merdeka Sekolah kelelahan, meskipun terlihat kegembiraan di wajah anak-anak.

Anak Merdeka & P. RT keliling Warga untuk membagikan kartu Kurban

Kegiatan mendatangi warga sekitar Merdeka Sekolah menjadi bagian dari pendidikan anak-anak untuk mengenal lingkungan di sekitarnya. Dan mengenalkan kehidupan warga dengan segala macam profesi dan kehidupannya. Anak dengan mata kepala, pendengaran dan perasaannya berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tanpa disadari anak sudah menangkap permasalahan masyarakat dengan segala permasalahannya. Namun tidak bisa didiskripsiskan atau dijelaskan dengan verbal. Tapi bisa lebih dirasakan sebagai pengalaman hidup yang nantinya menjadi bagian dari kehidupannya. Sehingga akan memperkaya perasaan dan empati terhadap permasalahan kehidupan masyarakat.

Begitu juga warga merasakan sesuatu yang membuat dirinya senang bercampur percaya tidak percaya. Karena memang ini bukan sesuatu yang lazim dilihatnya dalam kehidupannya selama ini. Karena sebagai manusia menjadi yang ada hanya rutinitas, tidak lebih. Jadi kedatangan anak-anak kelihatan mendapat respon yang beragam, mulai dari pertanyaan atau bertannya-tanya, heran, ragu, senang, dan baru tahu menjadi paduan yang menarik bagi anak-anak meskipun mereka belum menyadari betul hal itu. Tapi alam bawah sadar dan perasaan yang menjadi substansi dari kehidupan anak ini menjadi pengetahuan yang membawanya pada realitas kehidupannya. Membuat belajar menjadi paduan yang serasi dengan permaianan dan sosialisasi dengan masyarakat.

Begitu juga dengan Pak RT dengan kegiatan ini kembali dia menguraikan masalah lalunya ketika sekolah dasar, menengah dan menengah atas. Dengan lugas dan spontas menjadi bagian dari rasa senang karena ada wadah untuk bercerita tentang kehidupannya dengan segala permasalahannya. Begitu juga dengan permasalahan warga dan lingkungan sekitarnya. Meskipun hal itu menjadi bagian dari keinginan lain. Tapi sisi dari kehidupan manusia tidak bisa ditutupi sebagai sebuah realitas yang selalu hidup di mana-mana. Apa yang menjadi masalah kehidupan dengan sendiri akan selalu mengalir berdasar fitrah dari kehidupan sosialnya.

Begitu juga komunikasi sekolah dengan orang tua murid dengan sendiri muncul. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan setiap orang karena masing-masing mempunyai persepsi yang berbeda dengan capaian yang berbeda. Tapi ini merupakan sesuatu peristiwa yang membuat setiap orang dengan sendiri mengaktualisasikan tanpa bisa dibatasi oleh dirinya sendiri. Karena berinteraksi menjadi bagian dari kehidupan manusia, menjadi indikator bahwa keberadaan manusia itu ada karena disitu ada orang lain untuk saling mengapresiasi.

Kegiatan memang sudah menjadi kesadaran setiap orang tentang datangnya hari Raya Idul Adha. Yang kemudian dimaknakan menjadi sebuah proses komunikasi yang dibangun berdasarkan kualitas setiap orang untuk berdialog dengan baik dan mudah. Karena makna ini menjadi sebuah proses yang memberikan kesadaran bagi setiap orang dengan permasalahannya. Untuk bisa mendapat tempat, jalan keluar, menjadi inspirasi atau menemukan sesuatu yang sebelumnya dia tidak ditemukan.

Karena kegiatan kalau dipikirkan hanya sesuatu yang bisa dijelaskan tapi tidak bisa dirasakan. Untuk itulah perlu ada proses pembelajaran bagi semua orang di Merdeka Sekolah. Hal ini yang menjadi lebih penting dari kegiatan itu sendiri. Karena proses melihatkan cara berpikir seseorang, berempati, rasa dan emosinya. Semua daya itu diaktualisasikan menjadi sebuah reaktualisasi dari setiap orang. Dari situ diharapakan akan muncul sebuah kesadaran baru tentang sekolah dan pendidikan yang hanya diaktualisasikan dalam bentuk bukan dalam proses.

Kelemahan dari proses adalah banyak pengorbanan dan ruang perdebatan, dan saling mengklaim antara satu dengan yang lain. Timbulnya ketidakpuasan, merasa tidak enak, menyepelekan, tidak mencapai apa yang ingin dicapai kalau dilihat cara kuantitatif. Karena disitu memang banyak orang yang mempunyai keinginan dengan segala pandangannya. Namun itu bisa menjadi pembelajaran pada kita semua bahwa apa yang kita lakukan dengan segala persoalan hanya menjadi pertanyaan pada kita, apa sebenarnya niatan kita. Kalau kita punyai niat baik kelemah sebuah proses kegiatan bukan menjadi persoalan. Itu bisa diperabaikan, tapi kalau niatan lain akan menjadi persoalan tersendiri. Disinilah Allah mengatakan bahwa iman seseorang sebelum dikatakan beriman kalau belum dicoba.

Orang Tua Murid Merdeka dalam Berbagi Daging Kurban

Merdeka Sekolah menjadi upaya pendidikan yang memberikan kesadaran tentang partisipasi di dalam kegiatan bukan saja mencapai apa yang ingin kita inginkan tapi bagaimana membangun kesadaran bersama arti pentingnya sebuah kebersamaan untuk saling memberi dan berbagi agar kita menjadi kaya. Kaya jiwa membuat hidupan ini menyenangkan dan indah. Kaya mata membuat hidup ini lebih berwarna, kaya pendengaran membuat hidup ini seperti irama yang indah, kaya rasa membuat perasaan itu begitu sejuk seperti angin yang memberikan kesejukan semua orang. Kaya emosi membuat emosi kita bergairah untuk selalu membantu orang lain dan memberikan ruang pada orang lain untuk berbeda. Karena dengan berbeda kita bisa bersatu. Kalau kita sama kita tidak pernah bersatu, karena ada yang menguasai dan dikuasai. Kalau kita kaya harta menjadi impian kita. Karena kita sudah dibentuk oleh kemiskinan struktural. Yang membuat kita menjadi orang yang selalu merasakan susah. Seperti Allah mengatakan bahwa manusia itu selalu berkeluh kesah. Tapi kalau kaya dia akan menjadi kikir dan pelit. Pada hal indikator orang yang kaya adalah orang yang selalu ingin memberik dan berbagi tapi perhitungan. Karena dia sudah tahu itu adalah bagian dari kehidupan manusia untuk selalu memberi dan berbagi. (Aru)

 

Anak Merdeka Membedah Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s