Anak Merdeka Bercita-Cita


Anak Merdeka Bercita-Cita

Anak Merdeka ingin Membangun Bersama

Anak Merdeka, bercita-cita Tinggi. Walau sekolah dengan segala apa adanya, namun anak-anak Merdeka tetap ingin menjadi manusia yang berguna. Masa depannya tetap ditujukan pada upaya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi ummat manusia dan kehidupan.

Anak Merdeka tidak ingin hanya hidup dan berkembang dalam ritualitas akademik yang syarat dengan point-point nilai yang tertoreh dalam lembaran kertas rapor. Anak Merdeka tidak ingin terjebak dalam liberalisasi pendidikan yang dijejalkan oleh mereka yang sebenarnya tidak menghargai hakekat pendidikan.  Nilai akademis yang didewa dewakan oleh lembaga pendidikan berkelas, tidak serta merta menjadi barometer keberhasilan pendidikan yang sejati. Toh tidak sedikit mereka yang brilian dibidang akademis akhirnya malah banyak memberikan madharat kepada kehidupan. Anak Merdeka tidak benci pada nilai-nilai yang tinggi, namun anak Merdeka bercita-cita untuk dapat memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini.

Jamri, yang selama ini tidak pernah mendapat nilai 5 untuk matauji Matematika, namun masih gigih berharap bahwa kelak dia ingin membuka toko serba ada produk Islami. Padahal untuk usaha ritail seperti itu dibutuhkan itung-itungan yang jeli. Namun sekali lagi Jamri anak Merdeka, tetap gigih bahwa kelak dia ingin menjadi pengusaha ritail yang tangguh. Apakah ini dapat dikatakan bahwa Jamri hanya sekedar berbekal nekat ?

Anak Merdeka mempunyai keyakinan yang tinggi. Sutikno, anak yang suka  menggambar jalan, jembatan dan jenis-jenis infrastruktur, lebih asyik menghabiskan waktu istirahatnya untuk duduk-duduk di atas alat berat yang sudah rusak di pinggir jalan raya. Dia anaknya orang miskin, namun jika ditanya, Tikno, kenapa kamu kok suka duduk diatas kendaraan berat yang sudah karatan itu?’. Maka Tikno kecil itu akan menjawab dengan lugas bahwa ‘Aku pingiin bisa memperbaiki alat berat ini, karena masih banyak jalan yang harus diperbaiki, masih banyak pekerjaan yang dapat dibantu dengan alat ini. Dengan melihat alat ini saya berharap kelak dapat belajar Teknik Otomotif khusus untuk  alat-alat berat yang berguna untuk pembangunan. Apakah ini dapat dikatakan bahwa Sutikno hanya bondo nekat ? karena anak orang miskin yang pingin jadi ahli otomotif alat berat ?.

Azizah, gadis kecil yang kalem tak bertenaga. Hanya senyum yang ditebar kesiapa saja yang dijumpainya. Jarang bicara, hatinya selalu penuh sesak dengan hafalan ayat-ayat suci. Azizah tidak pernah kegi/berkeinginan untuk menjadi manusia yang berkiprah untuk menghasilkan materi. Kalau ditanya cita-citanya Azizah akan tersenyum manis sambil berucap ‘Aku ingin jadi Penghafal Al-Qur’an’. Sementara manusia berkompetisi untuk memilih profesi yang menghasilkan banyak pundi-pundi materi, Azizah berseberangan dan memilih untuk mengabdi ‘Memelihara Kitab Suci’.

Rohim, anak Kampung Babakan ingin jadi Tukang Ojek. Sederhana sekali cita-citamu Him, itu yang terlintas dalam benak siapa saja yang mengetahui bahwa Rohim hanya ingin jadi Tukang Ojek. Ketika ditanyakan kepada Rohim, ‘Kenapa kamu bercita-cita jadi Tukang Ojek Him ?’. Maka Rohim akan diam untuk beberapa saat, lalu berkata ‘Bapak saya jadi Tukang Ojek pak, jadi saya pingin seperti bapak saya’ . Lalu kita bertanya-tanya, kalau hanya pingin jadi tukang Ojek, kenapa Rohim harus sekolah ?. Mungkin, inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, terkadang anak-anak itu tidak tahu, bahwa mereka sekolah itu sebenarnya untuk apa, apa gunanya dan sebagainya. Jangankan anak-anak, yang sudah dewasa (mahasiswapun) terkadang tidak tahu apa yang dia maksudkan dari kuliah yang dijalani, kedepannya untuk apa dan seterusnya.  Maka Rohim tidak salah bila dia sekolah hanya untuk menjadi Tukang Ojek. Inilah pilihan Merdeka dalam kehidupan ini.

Tentu contoh-contoh diatas tidak bisa merepresentasikan jutaan anak Indonesia yang Merdeka, namun kiranya dapat menjadi reference renungan kita sekalian, bahwa anak-anak itu perlu untuk mendapatkan kemerdekaan dalam bercita-cita.

Guru-guru sendiri sebenernya jika ditanya apa yang anda inginkan dari pengajaran ini, tentu akan menjawab dengan normatif sesuai dengan GBPP/Silabus. Guru hanya bisa berdo’a dan mengharap agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berguna. Hanya anak-anak itu sendirilah pada dhohirnya yang akan menentukan masa depannya. Namun sebagai pendidik, pastinya akan melengkapi isi hatinya dengan selaksa harap bijak dan luar biasa, bahwa kelak anak didik itu akan berhasil didunia dan akhiratnya. Amiin. Tanda S

One thought on “Anak Merdeka Bercita-Cita

  1. PENDIDIKAN PARTISIPATORIS

    Hari Raya Idul Qurban juga menjadi bagian dari kegiatan Merdeka Sekolah dengan mengorbankan sapi. Dalan kegiatan ini semua terlibat dalam kegiatn Qurban, mulai dari sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, staf administrasi sekolah, siswa, orang tua murid, yayasan, masyarakat dan Pak RT Jaya Wijaya, yang mengantarkan siswa Merdeka Sekolah dan gurunya kewilayahnya.

    Pak RT Jaya Wijaya ini mengantarakan anak-anak Merdeka sekolah untuk membagi kupon Qurban kewarganya, di mana wilayah warga RT Merdeka Sekolah cukup luas, meskipun jumlah penduduknya hanya 75 KK. Karena perjalanannya mulai dari jalan besar, menyebrang jalan, menyelusurui kampung dan pematang sawah, berjalan diantara jalan sempit dengan rumah yang saling berdesakan. Begitu juga belahan rumah yang dibatasi dengan sawah dan tanah kosong luas. Membuat perjalanan anak-anak Merdeka Sekolah kelahan, meskipun terlihat kegembiraan di wajah anak-anak.

    Kegiatan mendatangkan warga sekitar Merdeka Sekolah menjadi bagian dari pendidikan anak-anak untuk mengenal lingkungan di sekitarnya. Dan mengenalkan kehidupan warga dengan segala macam profesi dan kehidupannya. Anak dengan mata kepala, pendengaran dan perasaannya berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tanpa disadari anak sudah menangkap permasalahan masyarakat dengan segala permasalahannya. Namun tidak bisa didiskripsiskan atau dijelaskan dengan verba. Tapi bisa lebih dirasakan sebagai pengalaman hidup yang nantinya menjadi bagian dari kehidupannya. Sehingga akan memperkaya perasaan dan empati terhadap permasalahan kehidupan masyarakat.

    Begitu juga warga merasakan sesuatu yang membuat dirinya senang bercampur percaya tidak percaya. Karena memang ini bukan sesuatu yang lazim dilihatnya dalam kehidupannya selama ini. Karena sebagai manusia menjadi yang ada hanya rutinitas, tidak lebih. Jadi kedatangan anak-anak kelihat mendapat respon yang beragam, mulai dari pertanyaan atau bertannya-tanya, heran, ragu, senang, dan baru tahu menjadi paduan yang menarik bagi anak-anak meskipun mereka belum menyadari betul hal itu. Tapi alam bawah sadar dan perasaan yang menjadi substasi dari kehiduipan anak ini menjadi pengetahuan yang membawanya pada realitas kehidupannya. Membuat belajar menjadi paduan yang serasi dengan permaianan dan sosialisasi dengan masyarakat.

    Begitu juga dengan Pak RT dengan kegiatan ini kembali dia menguraikan masalah lalunya ketika sekolah dasar, menengah dan menengah atas. Dengan lugas dan spontas menjadi bagian dari rasa senang karena ada wadah untuk bercerita tentang kehidupannya dengan segala permasalahannya. Begitu juga dengan permasalahan warga dan lingkungan sekitarnya. Meskipun hal itu menjadi bagian dari keinginan lain. Tapi sisi dari kehidupan manusia tidak bisa ditutupi sebagai sebuah realitas yang selalu hidup di mana-mana. Apa yang menjadi masalah kehidupan dengan sendiri akan selalu mengalir berdasar fitrah dari kehidupan sosialnya.

    Begitu juga komunikasi sekolah dengan orang tua murid dengan sendiri muncul. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan setiap orang karena masing-masing mempunyai persepsi yang berbeda dengan capaian yang berbeda. Tapi ini merupakan sesuatu peristiwa yang membuat setiap orang dengan sendiri mengaktualisasikan tanpa bisa dibatasi oleh dirinya sendiri. Karena berinteraksi menjadi bagian dari kehidupan manusia, menjadi indikator bahwa keberadaan manusia itu ada karena disitu ada orang lain untuk saling mengapresiasi.

    Kegiatan memang sudah menjadi kesadaran setiap orang tentang datangnya hari Raya Idul Adha. Yang kemudian dimaknakan menjadi sebuah proses komunikasi yang dibangun berdasarkan kualitas setiap orang untuk berdialog dengan baik dan mudah. Karena makna ini menjadi sebuah proses yang memberikan kesadaran bagi setiap orang dengan permasalahannya. Untuk bisa mendapat tempat, jalan keluar, menjadi inspirasi atau menemukan sesuatu yang sebelumnya dia tidak menemukan.

    Karena kegiatan kalau dipikirkan hanya sesuatu yang bisa dijelaskan tapi tidak bisa dirasakan. Untuk itulah perlu ada proses belejaran bagi semua orang di Merdeka Sekolah. Hal ini yang menjadi lebih penting dari kegiatan itu sendiri. Karena proses melihatkan cara berpikir seseorang, berempati, rasa dan emosinya. Semua daya itu diaktualisasikan menjadi sebuah reaktualisasi dari setiap orang. Dari situ diharapakan akan muncul sebuah kesadaran baru tentang sekolah dan pendidikan yang hanya diaktulisasikan dalam bentuk bukan dalam proses.

    Kelemahan dari proses adalah banyak pengorbanan dan ruang perbebatan, dan saling mengklaim antara satu dengan yang lain. Timbulnya ketidak puasan, merasa tidak enak, menyepelekan, tidak mencapai apa yang ingin dicapai kalau dilihat cara kuantitatif. Karena disitu memang banyak orang yang mempunyai keinginan dengan segala pandangannya. Namun itu bisa menjadi pembelajaran pada kita semua bahwa apa yang kita lakukan dengan segala persoalan hanya menjadi pertanyaan pada kita, apa sebenarnya niatan kita. Kalau kita punyai niat baik kelemah sebuah proses kegiatan bukan menjadi persoalan. Itu bisa diperbaikan, tapi kalau niatan lain akan menjadi persoalan tersendiri. Disinilah Allah mengatakan bahwa iman seseorang sebelum dikatakan beriman kalau belum dicoba.

    Merdeka Sekolah menjadi upaya pendidikan yang memberikan kesadaran tentang partisipasi di dalam kegiatan bukan saja mencapai apa yang ingin kita inginkan tapi bagaiman membangun kesadaran bersama arti pentingnya sebuah kebersamaan untuk saling memberi dan berbagi agar kita menjadi kaya. Kaya jiwa membuat hidupan ini menyenangkan dan indah. Kaya mata membuat hidup ini lebih berwarna, kaya pendengaran membuat hidupn ini seperti irama yang indah, kaya rasa membuat perasaan itu begitu sejuk seperti angin yang memberikan kesejukan semua orang. Kaya emosi membuat emosi kita bergairah untuk selalu membantu orang lain dan memberikan ruang pada orang lain untuk berbeda. Karena dengan berbeda kita bisa bersatu. Kalau kita sama kita tidak pernah bersatu, karena ada yang menguasai dan dikuasai. Kalau kita kaya harta menjadi impian kita. Karena kita sudah dibentuk oleh kemiskinan struktural. Yang membuat kita menjadi orang yang selalu merasakan susah. Seperti Allah mengatakan bahwa manusia itu selalu berkeluh kesah. Tapi kalau kaya dia akan menjadi kikir dan pelit. Pada hal indikator orang yang kaya adalah orang yang selalu ingin memberik dan berbagi tapi perhitungan. Karena dia sudah tahu itu adalah bagian dari kehidupan manusia untuk selalu memberi dan berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s