Merdeka Berkurban


Merdeka berkorban

Pagi begitu indah, mentari cerah penuh gairah. Diujung kampung Coret, suasana kehidupan perdesaan mulai bergerak, lelaki-lelaki itu hilir mudik menuju ladang kehidupan dengan seperangkat asesoris pertanian. Seragam seadanya khas petani desa yang bersimbah lumpur dan keringat perjuangan.  Sementara perempuan-perempuan desa itu masih bermalasan dengan sarung dan daster kumal penuh bebauan. Mereka bergerombol untuk berbincang sebagai pemecah hari yang masih panjang.

 ‘Mun, sebentar lagi hari raya kurban, dikampung kita ada yang kurban nggak yaa?, udah lama nich nggak makan daging kambing ?’ tanya Surti penuh harap. ‘ Yah, mudah-mudahan ada sih Sur, sebab kemarin Haji Romli udah dateng ke pak RT mungkin mau kurban lagi di sini, auuah… ’, jawab Muntiah sambil menguap lepas, tanda sisa-sisa kantuk semalam. Sementara itu Kokom yang  baru dateng langsung nyamber, ‘He he he ada kabar bagus nich, tadi malem waktu saya ke warung beli rokok, itu Khoiri, Madum, Yayat dan Kurmen sedang ngobrol, katanya itu tuh, orang baru, yang rumahnya diujung gang Sasak yang bagus guede, mobilnya mengkilat itu katanya mau kurban dikampung kita’. ‘Bener itu Kom ?’ tanya Muntiah dan Surti serempak. Sambil menghisap rokok Kokom menjawab santai ‘Dibilangin kagak percaya. Ternyata orang tuh orang gedean, kaya dan pemurah. Alhamdulilah deh kalo memang jadi kurban disini pasti kita kebagian banyak. Kemarin Yayat bilang, katanya mau kurban sapi Limosin yang item besar itu Sur’.  ‘Alhamdulilah, kalau memang  jadi kurban disini. Terus kamu kurban apa Kom ?’ tanya balik Surti sambil mesam-mesem.  ‘ He he he, kurban perasaan aja dech. Janda kayak saya gini uang dari mana Sur?.  Bisa makan aja udah bersyukur’ jawab Kokom kethus kembali sambil menghisap rokok putihnya dalam-dalam.

Muntiah yang berkerudung itu, sejenak menghela nafas dan berucap ‘Kom.., kamu ini sebenernya bisa kurban kambing lho. Coba kamu hitung setiap hari kamu menghabiskan 1 pack rokok yang harganya Rp7.500,00. Nah kalau dikali 1 bulan udah berapa tuh ?’ jelas Muntiah. ’Dua ratus ribu lebih itu Mun’, sahut Surti. ’Nah kalau dikali 12 bulan itu bisa ngumpul 2 juta lebih. Dua juta itu bisa untuk beli kambing 2 Kom !’ tegas Muntiah lagi. ’Iyaa yaa Mun, bener juga itung-itunganmu. Terus kalau kamu kurban apa Mun ?’ tanya balik Kokom. ’Bayar kontrakan aja masih susah Kom, apalagi untuk kurban. Apalagi itu si Jajang saben hari minta jajan melulu, jadi ya tidak kurbanlah’ jawab Muntiah.  ’Ye pada bae Mun’ jawab balik Kokom meledek. Surti yang rambutnya terurai panjang nyeletuk ’Yaah, siapa sih yang nggak pingin kurban Kom, kurban itu kan ibadah. Katanya  nanti jadi tunggangan di akhirat. Tapi kondisi ini Kom, yang tidak memungkinkan. Kaya saya nih, kang Kardi sehari kerja kadang-kadang 2 hari enggak kerja. Apalagi kalo musim hujan begini wah, alamat sepi nggak ada pemasukan’.

Ketiga perempuan itu kumpulnya kian merapat, dan meneruskan perbincangannya. Dan dari arah gang Penyet, nambak Hajah Rus istri H.Romli datang menghampiri. ‘Assalamu’alaikum, sedang ngapain nich, ?’ sapa Hj. Rus lembut. ‘Wa’alaikum salam, biasa bu haji, lagi ngobrol, katanya bu haji mau kurban lagi ya ?’ tanya Kokom yang terkenal blak-blakan itu. Sambil tersenyum manis Hj.Rus menjawab ‘Insyaalloh, tahun ini Alloh masih memberikan karunia rejeki kepada keluarga saya. Dan sebagian nanti kita nikmati bersama untuk menunaikan perintah Alloh yaitu menyembelih hewan kurban’. ‘Wah kayak bu haji ini enak ya, udah pergi haji tiap tahun bisa kurban lagi. Kalau kami-kami ini boro-boro bu haji.’ seloroh Surti. ‘Sur, Alloh itu sayang kepada kita semua. Yang penting kita yang harus pandai mensyukurinya. Kalau saya bisa berkurban dengan 1 ekor kambing, terus rencananya pak Drajat yang warga baru itu mau kurban sapi  itu semata-mata rasa syukur kepada Alloh. Kalau kalian tidak bisa berkurban dengan menyembelih hewan kurban, kan masih banyak jalan lain untuk bisa beribadah mengharap Ridho Alloh. Contohnya kalau kita bisa menghentikan kebiasaan buruk misalnya nich merokok seperti Kokom, terus uangnya ditabung untuk keperluan lainnya, ini sudah ibadah dan besar pahalanya. Terus kamu Sur, rambut itu kan aurat, walaupun rambutmu bagus mengembang terurai, namun agan lebih bagus lagi kalau berkerudung kayak Munti’ah. Nach seperti ini semua adalah berkurban dalam artian yang luas’. ‘Tapi –tapi saya nggak punya kerudung bu Haji’ potong Surti. ‘Sekarang mantapkan hatinya surti dengan sungguh-sungguh. Nanti kalau bener-bener mantep untuk pakek kerudung, insyaalloh akan saya belikan. Kalau kamu gimana Kom mau pakek kerudung juga ?’ tanya bu Hj.Rus. ‘Belum dulu bu haji, masih belum bisa, saya belum brani pakek jilbab. Nanti takut kalau udah pakek jilbab sifat saya masih liar kan tidak pas bu haji’,  kilah Kokom. ‘Ya udah nggak papa, terus kamu Mun, sekarang sudah mulai jarang mengaji dan mengajari anak-anak di Mushola, ada apa ?’ tanya bu haji. ‘ Iya bu, saya sedang repot dirumah. Suami saya sering pergi, terus kondisi keuangan kami juga pas-pasan, jadi sekarang saya bantu-bantu nyuci baju di rumah pak Taslim bu jadi waktu untuk  mengajar ngaji jadi berantakan. Ma’afkan saya ya bu haji’ pinta Muntiah. ‘ Ya udah nggak papa, yang penting mari dibulan Kurban ini berniat untuk bisa berkurban, kalau masih belum bisa kita perlu kurban nafsu agar kita lebih sabar menghadapi hidup, lebih tenang. Yang penting kita semua harus berkurban dengan pa saja yang bisa kita lakukan untuk menuju kebaikan.’ ’Baik hu haji’ jawab serempak perempuan  desa itu.

‘Nah, hari sudah mulai siang sana urus diri dan rumah supaya bersih dan rapi, terus  inget hari ini hari Rabo, nanti ada pengajian di bu Prapti, ikut hadir semua yaa!!’ undang bu haji. ‘Insyaalloh bu  haji’ jawab mereka  berbarengan. (Tanda S)

2 thoughts on “Merdeka Berkurban

  1. SOLAHUDINA MENGATASI KELEMAHANNYA

    Kesadaran anak-anak di dalam melihat diri dengan dunia luar menjadi menarik dan menjadi pelajaran bagi semua orang. Karena secara intuitif ada keinginan untuk bisa mengatasi, agar dia seperti teman-temannya yang lain. Dengan begitu diharapkan akan mampu mengimbangi di dalam segala permainan bersama teman-teman. Dengan begitu segala akan mudah untuk bisa lebih baik dalam mengkoordinasi dengan dirinya sendiri. Karena permasalahan tentang dirinya adalah kunci dari jawaban yang harus diselesaikan olehnya.

    Upaya ini yang kerap kali dilakukan oleh Solahudi tanpa disadari dia melakukan upaya perbaikan diri sesuai dengan kemampuannya. Meskipun upayanya itu kadang selalu diselingi dengan tangisan dan jeritan yang tidak menentu, karena dia sendiri tidak tahu kenapa harus menangis dan menceriiit. Apa sebagai ungkapkan ketakutan, ketidak berdayaan, kekesalan dirinya karena sudah berusaha untuk mengatasi tapi selalu belum hasil.

    Pada hal upaya yang dilakukan sudah ada kemajuan yang sangat berarti dibandingkan sebelumnya. upaya itu dengan langkah-langkah pendek tapi sudah bisa menghadapi masalah yang menurutnya menimbulkan rasa takut.

    Permasalahan yang dihadapi Solahudi adalah ketakutan di dalam melompat atau menyemberang pematang yang satu dengan yang lain. Sedangkan teman-temannya dengan mudah dan nekat walaupun kadang jatuh, tapi mereka mempunyai keranian untuk melompat. Sedangkan Solah hanya merosok kedalam sela pematang sawah, kalau musim panas tidak ada permasalahan, sepatu dan celana tidak basah. Tapi ketika diantara pematang sawah yang menjadi saluran air itu ada airnya dia tetap merosot dan merendamkan kakinya, sehingga sepatu dan celananya basah, tapi buatnya tidak masalah. Artinya Solah sudah mencoba berani menghadapi masalahanya namun belum ada kepercayaan dirinya untuk mengatasi dengan baik. Hal ini diperlukan waktu untuk bisa mengatasinya.

    Langkah-langkah ini selalu dilakukan oleh Solah ketika bersama teman-temannya untuk selalu mencoba dan mencoba dengan segala upayanya. Meskipun tidak lepas dengan tangisannya, tapi tangisannya lebih berbeda dengan awalnya. Tangisan yang dia ekspresikan adalah tangisan keinginan untuk bisa dan bisa.

    Hal ini yang menjadi menarikan bahwa kesadaran untuk melihat kelemahan untuk diatasi adalah sebuah kecerdasan yang tersendiri bagi seorang anak. Untuk bisa dijawab setiap hari dengan upaya-upaya yang dilakukan dengan teman-temannya sebagai fasililtasinya. Dengan demikian diharapkan mampu menghilangkan kelemahan itu selama didukung oleh lingkungan sekolah dan rumahnya dalam hal ini orang tuanya untuk selalu mensportsnya untuk menjadi anak yang kuat.

    Memang harus dipahami kelemahan motorik bukan berarti kelemahan yang lain. Karena imajinasinya begitu kaya, dan mampu dikembangkan dengan segala caranya sesuai dengan dunia anak. Membuat dirinya merasakan nyaman dan kadang terganggu, namun hal itu bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.

    Paduan imajinasi dan motori yang belum singkron diatasi dengan mediasi kepribadian yang kuat untuk dimunculkan sebagai sebuah upaya untuk melihat dirinya bahwa apa yang dikerjakan dengan motorinya menjadi langkahnya. Sedangkan apa yang dilakukan dengan imajinasinya makin memperkuat motorinya. Untuk itu lingkungan di mana dia berada harus mendukungnya dengan sepenuh hati agar mampu mengatasinya dengan baik.

  2. SOLAHUDIN : MENGATASI KELEMAHANNYA

    Kesadaran anak-anak di dalam melihat diri dengan dunia luar menjadi menarik dan menjadi pelajaran bagi semua orang. Karena secara intuitif ada keinginan untuk bisa mengatasi, agar dia seperti teman-temannya yang lain. Dengan begitu diharapkan akan mampu mengimbangi di dalam segala permainan bersama teman-teman. Dengan begitu segala akan mudah untuk bisa lebih baik dalam mengkoordinasi dengan dirinya sendiri. Karena permasalahan tentang dirinya adalah kunci dari jawaban yang harus diselesaikan olehnya.

    Upaya ini yang kerap kali dilakukan oleh Solahudi tanpa disadari dia melakukan upaya perbaikan diri sesuai dengan kemampuannya. Meskipun upayanya itu kadang selalu diselingi dengan tangisan dan jeritan yang tidak menentu, karena dia sendiri tidak tahu kenapa harus menangis dan menceriiit. Apa sebagai ungkapkan ketakutan, ketidak berdayaan, kekesalan dirinya karena sudah berusaha untuk mengatasi tapi selalu belum hasil.

    Pada hal upaya yang dilakukan sudah ada kemajuan yang sangat berarti dibandingkan sebelumnya. upaya itu dengan langkah-langkah pendek tapi sudah bisa menghadapi masalah yang menurutnya menimbulkan rasa takut.

    Permasalahan yang dihadapi Solahudi adalah ketakutan di dalam melompat atau menyemberang pematang yang satu dengan yang lain. Sedangkan teman-temannya dengan mudah dan nekat walaupun kadang jatuh, tapi mereka mempunyai keranian untuk melompat. Sedangkan Solah hanya merosok kedalam sela pematang sawah, kalau musim panas tidak ada permasalahan, sepatu dan celana tidak basah. Tapi ketika diantara pematang sawah yang menjadi saluran air itu ada airnya dia tetap merosot dan merendamkan kakinya, sehingga sepatu dan celananya basah, tapi buatnya tidak masalah. Artinya Solah sudah mencoba berani menghadapi masalahanya namun belum ada kepercayaan dirinya untuk mengatasi dengan baik. Hal ini diperlukan waktu untuk bisa mengatasinya.

    Langkah-langkah ini selalu dilakukan oleh Solah ketika bersama teman-temannya untuk selalu mencoba dan mencoba dengan segala upayanya. Meskipun tidak lepas dengan tangisannya, tapi tangisannya lebih berbeda dengan awalnya. Tangisan yang dia ekspresikan adalah tangisan keinginan untuk bisa dan bisa.

    Hal ini yang menjadi menarikan bahwa kesadaran untuk melihat kelemahan untuk diatasi adalah sebuah kecerdasan yang tersendiri bagi seorang anak. Untuk bisa dijawab setiap hari dengan upaya-upaya yang dilakukan dengan teman-temannya sebagai fasililtasinya. Dengan demikian diharapkan mampu menghilangkan kelemahan itu selama didukung oleh lingkungan sekolah dan rumahnya dalam hal ini orang tuanya untuk selalu mensportsnya untuk menjadi anak yang kuat.

    Memang harus dipahami kelemahan motorik bukan berarti kelemahan yang lain. Karena imajinasinya begitu kaya, dan mampu dikembangkan dengan segala caranya sesuai dengan dunia anak. Membuat dirinya merasakan nyaman dan kadang terganggu, namun hal itu bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.

    Paduan imajinasi dan motori yang belum singkron diatasi dengan mediasi kepribadian yang kuat untuk dimunculkan sebagai sebuah upaya untuk melihat dirinya bahwa apa yang dikerjakan dengan motorinya menjadi langkahnya. Sedangkan apa yang dilakukan dengan imajinasinya makin memperkuat motorinya. Untuk itu lingkungan di mana dia berada harus mendukungnya dengan sepenuh hati agar mampu mengatasinya dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s