Lulu :Lugas


LULU:

LUGU DAN LUGAS

Anak Manis yang Lugu dan Lugas

Semua anak dilahirkan di dalam kehidupan ini yang bahagia karena membahagiakan semua orang yang ada di dalam lingkungan. Anak yang lahir memang menjadi kebahagian yang sangat disyukuri, karena itu sebagai tanda dari kebesaran Allah sebagai Pencipta alam semesta ini.

Lulu anaknya kecil mungkin lugu dan linca itu, selalu memberikan inspirasi pada teman-teman untuk sesuatu yang membuat temanya menjadi tertarik. Ada kecenderungan menjadi anak yang selalu menjadi inisiator terhadap teman-temannya.

Lulu yang menjadi kepanjang anak yang lugu dan lugas. Lugu karena penampilannya yang lugu, seolah-olah tidak ada sesuatu yang dia pikirkan dan segala sesuatu itu dilakukan tidak ada pretensi apa-apa, apa adanya. Sehingga dia tidak merasakan beban dan terbebani pada permsalahan atau tugas dari sekolah.Bisa dia kerjakan, tidak bisa dia tinggalkan hal itu mungkin yang terlihat dalam pelajaran kreatif dan melukis.

Dalam pelajaran melukis lulu tidak pernah menyelesaikan karya secara tuntas, dia hanya melakukannya sekedarnya. Dan dia merasakan tidak terbebani kalau dia tidak menyelesaikan karya lukisannya. Mungkin karena dia masih banyak yang ingin dia rasakan di dalam lingkungan sekolah.

Lulu juga mencoba menari perhatian teman dan gurunya dengan berbagai macam cara, tanpa dia merasa berdosa atau bersalah karena melanggar dan ketentuan yang ada. Itu yang menjadi keluguan yang sekaligu kelugasnya untuk menyatakan dirinya bahwa dia ingin tahu sejauh mana apa-apa yang dikerjakan atau dilakukan itu mendapat respon positif atau negatif. Itu yang selalu dia lakukan pada teman dan gurunya.

Kelugasnya kadang membuat dia menjadi anak yang tidak mau kalah dengan temannya, seolah dia leader dari yang lain. Lulu adalah ketua yang harus diikuti oleh temannya dan kelihatnnya teman-temannya merasakan hal itu sebagai sesuatu yang menjadi kebanggaannya.

Lugasnya Lulu menjadi dirinya seorang anak yang suka melawan dan baik hati pada temannya. Melawan menjadi bagian pelajaran bagi dirinya, karena dengan melawan dia akan tahu siapa sebenarnya temannya itu atau gurunya itu. Baik hati karena dia sangat perhatian terhadap teman atau gurunya sebagai bagian dari pembelajarannya.

Lulu selain belajaran dalam pengertian sekolah, dia belajar dalam pengertian yang sebenarnya. Artinya kaidah-kaidah yang dia dapat dari belajaran itu memang menjadi kaidah yang begitu melekat yang dapat dia pahami. Jadi pelajaran yang dia lakukan kadang mengandung resiko dan membuat orang tidak nyaman, terutama guru.

2 thoughts on “Lulu :Lugas

  1. CARA MELVI BELAJAR

    Anak perempuan yang kecil dan mungil, imut-imut ini membuat orang ngemes. Tapi orang tidak akan pernah tahu kalau anak perempuan ini kalau sudah marah luar biasa ngamuknya. Anak itu akan sejadi-jadinya marahnyanya, apa yang ada disitu akan menjadi sasarannya, dan orang disitu tidak ada yang ditakutkan. Anak perempuan itu marah, brontak, protes keras dengan menangis sejadi-jadinya. Semua orang seolah-olah menjadi kualahan, tidak bisa mengatasinya kalau sedang marah.

    Itu gambaran Melvi yang responsif, spontan, beledak-ledak, dan lugas. Sebagai sebuah gambaran bagaimana melvi merespon atau menangapi permasalahan yang ada diluar dirinya. Karena pada prinsipnya anak itu memang bersih dan tidak ada pretensi, watak dan karekter yang diungkapkan itu bukan memperlihatkan dirinya sebgai anak yang tempramental dengan teriak dan menangis sejadi-jadinya.

    Melvi adalah sebuah representasi dari kehidupan masyarakat yang begitu ketakutan dan mencekam di dalam menghadapi kehidupan yang keras, dan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak menentu. Membuat dirinya mudah terulut amarah yang sejadi-jadinya.

    Itu bisa kita lihat di dalam kehidupan masyarakat karena masalaha ekonomi dan hubungan satu dengan yang lain tidak harmonis atau mengalami ganggu, dengan mudah menjadi sebuah pemicu yang berakibat fatal bagi orang tersebut dan masyarakat lingkungannya. Karena persoalan itu memang menjadi prodak kehidupan masyarakat.

    Melvi dengan mudahnya menangkap permasalahan yang begitu peka dan kritis di masyarakat, menjadikan dirinya terkontaminasi dengan artikulasi ungkapan yang begitu merepotkan lingkungannya.

    Itulah adalah awal melihat melvi ketidak menginjak kakinya di Merdeka Sekolah. Guru terkaget-kaget dengan sikapnya yang tak rekendali kalau sedang marah dan menangis yang sejadi-jadinya.

    Dengan empati guru yang dalam terhadap kehidupan anak-anak terlihat banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam dirinya melvi sebagai anak yang memang terbuka pada nilai dan permasalahan yang dia serap sebagai transformasi kehidupan dirinya.

    Berangsur-angsur marah dan menangisnya tidak lagi meledak-ledak. Marah dan menangisnya karena memang kebutuhannya pada saat itu. Setelah kebutuhan itu terpenuhi dengan sendirinya marah dan menangisnya selesai, terlihat sangat alamiah. Segala sesuatu memang harus demikian, anak boleh menangis, marah, melawan, protes, berkelahi, selama itu menjadi sebuah penyelesaian yang baik dan sesuai dengan proporsinya, tidak akan menjadi masalah. Hal itu justru menjadi sebuah pelajaran yang dapat dirasakan diri sebagai bagian dari kesimbangan jiwa dan sosialnya di dalam kehidupan yang begitu keras dan kejam, tidak berperi kemanusiaan.

    Melvi kelihatnya menjadi anak yang berangsur-angsur memperlihatkan kecerdasannya. Hal itu juga diakui oleh teman dan gurunya. Kecerdasan itu harus dipahami dalam pergertian luas.

    Melvi dengan gaya belajarnya dengan tidak bisa diam, seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dijelaskan oleh gurunya di depan kelas. Melvi dengan asik mempermainkan sesuatu, sedangkan temannya dengan diam seolah-olah menyimak apa yang dijelaskan oleh gurunya. Tapi ketika ditanya gurunya Melvi dengan mudah menjawabnya apa yang dijelaskan gurunya di depan kelas.

    Di sini bisa terlihat bahwa gaya belajar anak-anak tidak selalu dengan duduk rapi dan diam. Tapi dengan melakukan gerakan yang seolah-olah tidak memperhatikan gurunya di depan kelas, kalau guru yang tidak mengerti anak akan mengatakan anak itu tidak disiplin, nakal, badel dan berbagai macam cap yang tidak baik bagi anak tersebut. Itulah yang selalu menjadi sebuah kesalahan pendidikan di dalam melihat anak sebagai sesuatu yang sudah dipikirkan oleh gurunya. Membuat anak menjadi terikat dan terkekang dengan cara berpikir guru yang melihat anak sesuatu dengan pikiran dan keinginannya, yang disebut dengan anak yang baik dan pintar atau cerdas.

    Melvi belajar dengan melakukan sesuatu, sebagai upaya dirinya untuk mengerakan segala yang ada di dalam dirinya, dalam hal itu cara berpikirnya. Dengan melakukan gerakan dengan sendiri mengerakan sistem syaraf berpikirnya untuk menangkap apa-apa yang terjadi di luar dirinya, yang ditangkap melalui telinga, mata, rasa dan emosinya.

    Melvi belajar bukan dengan mendiamkan dirinya untuk merespon gurunya yang sedang menjelaskan pelajaran itu. Diam arti bagi Melvi adalah menghabat sistem syaraf otak untuk bekerja, sehingga tidak akan bisa menangkap informasi yang didengar, lihat, rasakan secara emosional.

    Dengan gerak atau melakukan aktifitas dengan sendirinya sudah melakukan koordinasi dirinya untuk bisa menangkap informasi yang dijelaskan oleh gurunya di depan ruang kelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s