RENUNGAN GERAKNYA IHSAN


RENUNGAN

GERAKNYA IHSAN

Pandangan dan pikiran kadangkala tidak pernah sinkron dengan apa yang dilihat oleh mata dan hatinya. Begitu juga tidak akan pernah sinkron dengan realitas yang sebenarnya. Seperti orang melihat lampu kerlab-kerlib atau lampu yang bergerak membentuk bintang, huruf, angka seperti di lampu merah atau sesuatu obyek.

Hal itu juga yang terjadi di dalam kehidupan ini, pandangan dan pikiran selalu tidak sinkron dengan realitas yang ada. Karena pandangan dan pikiran bukan yang mengukur sesuatu yang menjadi keinginan kita. Tapi hanya sebagai perangkat kita di dalam melihat realitas menjadi sesuatu yang harus kita pikirkan untuk bisa mendekati kenyataan itu.

Untuk itu tidak heran banyak orang takut pada sebuah kenyataan karena kenyataan itu seolah-olah ada. Seperti ketika orang ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, maka yang muncul adalah sebuah keraguan kalau bukan sebuah ketakutan di dalam pikiran sebagai sebuah kenyataannya.

Pada hal Abu Bakar dengan begitu saja mengelontorkan uang dan hartanya untuk berjihad. Ketika ditanya Rasullah Saw bagaimana dengan keluarganya, Abu Bakar dengan relaxnya menjawab ‘Cukup Alloh yang menjaganya’. Allahu Akbar!!!

Begitu yang terlihat di dalam diri Ananda Ihsan, anak yang begitu dinamis, bergerak kesana kemari, sehingga dia dikatakan sebagai anak yang tidak bisa diam, tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Iya, memang Ananda Ihsan anak yang tidak bisa diam dan tidak bisa konsentrasi dan hanya membuat orang menjadi tarik nafas yang panjang, kalau tidak boleh dibilang kesal dan marah.

Ananda Ihsan anak yang bergerak dalam diam, geraknya seolah-olah mengisyaratkan dia ingin menemukan sesuatu yang belum dia temukan. Ananda Ihsan seperti seorang perenung dalam sebuah gerak. Karena banyak merenung itu membuat dirinya tanpa disadari begitu saja begerak kian kemari, untuk mencari sesuatu yang belum diketahui.

Ihsan

Ihsan Selalu Menari Menuruti Kata Hati

Ananda Ihsan tidak bisa menyelesaikan pelajaran yang diberikan. Karena dia terlalu sibuk merenung dalam geraknya. Untuk mencari sesuatu yang dia rasa memberikan makna dan rasa kepuasan di dalam dirinya. Dan itulah sesunggunya jawaban Ananda Ihsan atas segala pertanyaan dan soal yang disodorkan kepadanya. Salahkah jawaban Ananda Ihsan ?

Membuat anak ini menjadi sensitif dan peka terhadap permasalahnya yang menurut orang lain biasa. Tapi bagi dirinya menjadi sebuah prinsip. Seperti dia diperlakukan tidak adil oleh temannya, maka dia dengan gigihnya akan memperjuangkannya. Sebelum itu tuntas dan lingkungan tidak mendukungnya, menjadi persoalan tersendiri baginya. Membuat makin kerasnya dia merenung bukan lagi dengan gerak tapi dengan ekspresi dan diam tanpa dia tahu harus bagaimana. Setiap insan dilahirkan berbeda dan itu adalah anugerah dan kuasa Sang Pencipta.

Ananda Ihsan dengan dimanis, kalau boleh dibilang hiperaktif, seperti anak yang tidak perduli dengan lingkungan dan perasaan orang lain. Seperti anak yang tidak tahu diri dan tidak bisa diatur. Karena dia sudah mempunyai aturan sendiri di dalam dirinya yang tidak pernah sinkron dengan ukuran kewajaran orang lain. Selanjutnya bolehkah kita menghukumi seseorang dengan sesuatu yang bukan menjadi hukum baginya ?

Dia lari dengan gesitnya. Dia melompat batang bambu yang satu ke yang lain dengan tangkasnya. Dia dengan cepatnya merubah posisi tanpa temanya tahu. Dia dengan mudahnya menggerakan tangan di batang pohon berayunan. Saya sendiri terkadang amat sangat sayang kepada Ananda Ihsan sehingga timbul kekawatiran yang tinggi, bagaimana nanti kalau Ananda Ihsan terpelanting, jatuh, berdarah, memar, sobek bibirnya yang memerah, terluka pipinya yang halus terkadang aku menangis dalam diam, meneteskan air mata dalam senyuman, Ananda… engkau menjadi  inspirasi tafakurku, bahwa Alloh pasti akan menjagamu. Tapi engkau terus melanjutkan kehidupan diduniamu dengan selaksa bahagia, engkau lakukan apa yang engkau mau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam jiwamu.

Ananda Ihsan, dengan  cepatnya memburu binatang kepik, belalang dan kadal. Dengan waktu singkat binatang itu dilepas dan beralih kepermainan yang lain. Begitulah yang dia lakukan sebuah bagian jiwa yang bergerak di dalam merenungi kehidupan yang dia tidak pernah tahu. Tapi dia jalani semua itu dengan gerakannya yang merenung itu.

Membuat dirinya merasakan kegairah hidup dan semangat untuk menemukan sesuatu, yang tidak pernah dia tahu apa itu sesuatu. Yang jelas dia bergerak dalam merenung dan tanpa jerih dan lelah. Ihsan yang artinya manusia baik, bergerak untuk kebaikan dirinya. Kalau tidak bergerak jadi apa. Ma’afkan Kami wahai ananda jika terlalu sayang padamu, sehingga terkadang ingin mengungkungmu dalam tertipnya duduk manis, diam menarikan tangan dengan  ritme teratur hingga menjadi torehan angka dan huruf yang indah. Ternyata engkau menulis dan membaca dalam duniamu, dan Kami yakin engkau akan menemukan yang tertuju dari lembah Merdeka ini, sebagai mana keluarga Ibrahim yang bersinar dari lembah Kematian Makkah. Teruslah bergerak Merdeka wahai Ananda Ihsan. (Tri Aru)

2 thoughts on “RENUNGAN GERAKNYA IHSAN

  1. ISA SANG PEMBRONTAK

    Kenakalan anak adalah sebuah realitas yang selalu dihadapi orang tua dan guru disekolah. Karena kenakalan anak sesuatu yang wajar sebagai anak-anak. Karena menurut teori psikologi bahwa anak mengalami sebuah pertumbuhan dan pertumbuhan itu dengan sendiri membangun diri anak untuk menyesuaikan dirinya. Atau memang anak itu menjadi bagian dari realitas itu sendiri.

    Tapi kelihatannya kenakalan anak tidak bisa dilihat secara baik dan buruk, tapi ada dimensi yang memberikan sesuatu yang harus dipahaminya sebagai sebuah pengetahuan dan nilai yang harus digaris bawahi.

    Pembrontakan sebuah pengertian yang destruktif dan cenderung berbuat anarki, sehingga akan merugikan orang lain dan lingkungannya. Pembrotakan itu sebuah prilaku yang tidak terpuji karena melanggar norma susila yang ada di dalam masyarakat.
    Pembrotakan anak bentuk musuh yang paling nyata bagi kehidupan yang mapan. Karena pembrotakan yang membuat sesuatu yang selaras menjadi kacau balau. Semuanya bisa berantakan, berantakan segalanya, berantakan jiwa dan raga, berantakan kaidah masyarakat menjadi sesuatu yang tidak terkendali.

    Di dalam sejarah seni Barat Pembrotakan menjadi sebuah realitas perlawan dari kebekuan ilmu pengetahuan yang memperlihat arogansi sebagai sesuatu yang memengang kebenaran yang mutlak.

    Isa anak yang bertubuh kecil mungil, tapi dia tidak percaya pada orang lain, kalau tidak boleh dibilang tidakpercaya pada semua orang. Karena semua orang dianggap menjadi penganggu dan membahayakan dirinya. Sehingga sebelum dia diserang, dia akan menyerang lebih dahulu sebagai bentuk kekuatiran dirinya yang sangat berlebihan.

    Isa menjadi anak yang sangat hati-hati terhadap orang lain. Apa lagi orang yang dia tidak kenal, sikap defensifnya makin kuat sebelum tahu bahwa orang itu memang tidak membahayakan dirinya.

    Tapi itu adalah sebuah gambaran yang sangat jelas bahwa dia sebenarnya merasakan ada sesuatu dilingkungannya tidak ada yang bisa mengerti apa yang menjadi pikiran dan keinginannnya.

    Bukan itu saja Isa juga merasakan ada sesuatu dilingkungannya yang membuat dirinya tidak nyaman baik dalam perkataan, tindakan maupun kekerasan. Isa sangat sensitif pada kekerasan verbal, karena dia merasakan bahwa kekerasan itu menjadi sebuah ancamannya yang membuat dia dengan cepat melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk diakal dan sangat keterlalu dalam kaidah sosial. Tapi kalau melihat dunia anak itu menjadi sebuah indikasi bahwa anak itu ingin sekali menemukan apa yang menjadi sebuah keinginannya, dan dia sendiri tidak tahu keinginannya. Hanya dari realitas saja dia dapat menemukan apa yang dia inginkan sebenarnya. Untuk itu dia mencari keinginan bukan saja dalam pelajaran, dari guru atau teman, tapi dari tindakan-tindakan yang tidak terpuji.

    Pembrotankan Isa menjadi sebuah kenyataan yang dilihat dari ketulusan hati untuk menjadi anak yang baik. Tapi dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi anak yang baik sesuai dengan apa yang dia rasakan.

    Hal ini yang perlu diperhatikan oleh orang tua, kepala sekolah, guru dan masyarakat di dalam melihat anak sebagai sesuatu yang harus diberikan kaidah-kaidah yang kontradiktif. Di mana anak disuruh baik tapi cara menyuruhnya tidak baik, hal ini yang membuat anak menjadi seorang pembrontak. Dia tahu bahwa itu saja, tapi kesalahan itu bukan sesuatu keburukan yang tidak bisa diperbaiki. Karena kesalahan anak, kenakalan anak bagaimana beratnya dan parahnya selalu ada dalam kaidah kehidupan, anak berhak untuk diberikan apresiasi. Karena dengan kesalahan itu anak akan menemukan kebenar yang sebenarnya dan mengerti dan memahami arti kebenaran itu sendiri.

  2. .. UNTUK ANAKKU DHIYA IHSAN SYAMIL…

    Malam itu, susah sekali ku pejamkan mata ini..
    masih teringat kejadian siang harinya..
    “Ihsan jatuh bu..” kata temannya
    “Ha?? jatuh dari atas pohon bintaro yang tinggi itu?
    aduh .. bagaimana keadaannya anak itu???” pikir ku.

    saat jatuh memang ia menangis tapi sebentar sekali karena tak berselang lama setelah itu ia masuk ke kelas tuk sholat dzuhur berjamaah. Ia terlihat seperti ingin mengatakan bahwa ia tidak apa2 pada yg lain.. tapi aku lihat raut wajahnya sepertinya ia menahan rasa sakitnya itu..

    ku pegang tangannya agar ia mengikuti ku masuk ke ruang istirahat
    “bagian mana tubuhmu yang sakit nak?? ” tanyaku.
    “bagian ini bu.. ” jawabnya sambil menunjukkan punggungnya..
    dengan perasaan khawatir, kuusapkan minyak but2 ke punggungnya sambil berulang2 kutanyakan lagi bagian mana lagi yang sakit. ia hanya menjawab bagian yang tadi..

    pasti sakit sekali.. tapi ia tetap tidak ingin orang lain tau seperti apa sakitnya itu.. tapi ibu tau san… ibu tau kamu sakit nak.. istirahatlah, semoga allah segera menyembuhkan sakitmu dan dapat bermain seperti biasa…

    lindungilah anak2ku ya rabbi.. karena kami memiliki keterbatasan tuk melindunginya..

    kemudian aku tertidur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s