Dibalik Keraguan Rohim


DIBALIK KERAGUAN ROHIM

Rohim

Anak Pendiam yang sedang Menjawab Kehidupan

Rohim seorang anak yang pendiam,karena sedikit berbicara, kalau memang perlu dia berbicara. Seperti dia bertanya kalau tidak bisa dalam cara pengajaran antara personal. Tapi kalau cara pengajaran klasikal dia hanya diam, kalau bicara ketika ditanya, karena dia harus bicara bukan karena dia ingin bicara.

Anaknya kecil mungil lamban dalam mengikuti kegiatan. Tapi lambannya Rohim bukan karena dia tidak mau belajar atau tidak ada gairah untuk belajar. Tapi sudah terlalu banyak soal yang dia dapat dari kehidupanya sehari-hari. Sehingga dia harus menjawab soal itu dengan caranya sendiri, kadang berhasil, kadang tidak. Hal itu yang membuat dia selalu ragu-ragu.

Keraguan di dalam dirinya bukan karena dia tidak mampu mengikuti pelajaran. Keraguannya muncul karena soal kehidupan yang dirasakan tidak begitu sinkron dengan apa yang ada di dalam dirinya. Rohim mempunyai keinginan banyak tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Karena secara struktural dia menjadi orang yang tidak berdaya dan tidak diperdayakan. Membuat dirinya merasakan bahwa dia begitu lemah.

Tapi lagi-lagi wajah keraguan itu selalu dihiasi dengan semangat dan optimistik di dalam melihat kehidupan ini. Hal itu akan terlihat ketika dia merasakan rasa aman di dalam dirinya. Dia mau menulis meskipun dia belum bisa merangkaikan kali. Dia bisa melukis dengan gairah dan semangat yang terpedam, meskipun dia tidak pernah diberikan buku gambar dan pastel. Dia pasip, bila diberikan kertas gambar dan diberikan pastel untuk melukis, dengan begitu lancarnya dia menguraikan dunianya melalui tema yang diberikan.

Rohim asik melukis, tengelam dalam rasa dan imajinasi yang menghilangkan keraguan dan ketidak berdayaannya. Seolah-olah menemukan jalan yang harus dia lakukan untuk menjawab soal kehidupannya. Karena soal kehidupannya begitu banyak yang harus dijawab. Sehingga dia tidak sempat untuk menjawab soal yang diberikan guru untuknya. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena keadaannyalah yang membuat dirinya harus seperti itu.

Rohim berjalan dengan kalem, langkahnnya tidak segesit temannya. Tapi dia bisa melewati rintangan dipematang sawah, dengan tenangnya dia melombati saluran irigasi yang kering sekering hati dan jiwanya. Dia tidak tahu kenapa kehidupannya seperti itu dan dia juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Pada hal setiap belajar disekolah dia selalu diberikan soal oleh gurunya dan dia tidak bisa menyelesaikan dengan baik. Meskipun dia sudah berusaha, tapi kenyataan usaha itu tidak berbading lurus dengan harap gurunya. Namun dia telah bisa/belum berhasil.

Rohim kadang tidak masuk dua atau tiga hari, entah kenapa, dia sendiri juga tidak tahu. Meskipun kadang dari rumahnya  berangkat ke sekolah tapi tidak sampai disekolah, melah  berbelok arah ketempat lain, yaitu rumah saudarannya dekat sekolah. Dan ketika sekolah telah usai dia datang kesekolah untuk bermain dengan temannya tetangga saudarannya.

Meskipun Rohim juga pernah ketahuan oleh gurunya tidak sekolah karena dia main di sekolah dan membuat dia malu. Tapi Rohim tidak bisa menjawab kenapa dia tidak sekolah. Dan  pada akhirnya Rohim menjawab ketidak tauannya itu dengan mengulang tidak masuk sekolah, sekolah tidak masuk dan sekolah demikian repetisi kehidupan yang sedang dijalani oleh Rohim.

Apakah ada keinginan untuk sekolah tapi tanpa harus dibebani dengan soal pelajaran. Karena dia sedang menjawab soal kehidupan yang mengelayuti kehidupannya. Dengan cara bermain disekolah, seolah-olah sekolah menjadi sebuah spirit untuk bisa menjadi jawaban soal kehidupannya yang dia tidak pernah tahu. Meskipun dia sangat merasakan, sehingga menjadi gerak dan langkahnya yang ditampilkan dirinya pada orang lain, dengan gerak yang lamban, dan diam sebagai ekspresi strata kehidupan yang saat ini sedang dia jalani.

Rohim menjadi seorang yang pediam dan peragu, tapi juga dia seorang yang mempunyai keinginan untuk menyelesaikan soal kehidupan dan soal pelajaran yang diberikan. Hanya saja dia mempunyai catatan, bahwa apa yang dia jawab sesuai dengan apa yang dia rasakan dan ketahui pada saat itu. Alhasil apa yang dia jawab  tidak pernah sinkron  dengan pandangan orang lain. Sehingga kelihatnnya dia menjadi seorang anak yang lamban, tak bisa seatractive dan seakselerasi anak Merdeka yang lain dalam menyerap ritual pelajaran versi umum.

Apakah Rohim sama lambannya dengan Albert Eanstains waktu kecilnya. Sehingga dia dianggap seorang anak yang tidak mampu mengikuti pelajaran sekolah. Karena dia terlalu banyak berpikir sesuatu yang belum waktunya dia pikirkan. Atau Rohim memang menjadi bagian kekerasan hidup dan perasaan yang belum waktunya ditekankan pada seorang anak kecil. Ini menjadi bagian dari apa yang menjadi vivi dan misi sekolah Merdeka, untuk memerdekakan anak Merdeka untuk dapat tumbuh kembang bersama Al-Qur’an.

Mulai Guru, Staf dan semua stakehoders mari berfikir dan berbuat untuk mengentaskan semua permasalahan anak kita dan khususnya Rohim, menjadi anak yang Merdeka.  Inilah pendidikan yang sesungguhnya bahwa mendidik tidak sekedar menjadikan anak-anak bisa membaca dan menulis, mahir menjawab soal-soal ujian yang disodorkan, tidak sekedar menijasahi anak dengan selembar kertas bertuliskan ‘LULUS’,  namun lebih dari semua itu untuk sekedar membantu anak-anak mengantarkan hidupnya sesuai dengan anugerah Alloh yang telah dikaruniakan kepadanya dengan segala kesempurnaan dalam pandangan Alloh SWT. (Tri Aru)

One thought on “Dibalik Keraguan Rohim

  1. BAGAIMANA MELIHAT PENDIDIKAN

    Masalah pendidikan tidak akan pernah selesai, kalau pendidikan itu dilihat secara sektor, partial, apa lagi menjadi sebuah sekte ekonomi dan aliran materialisme, serta menjadi dukun kecerdasan. Akan membuat orang berbondong-bondong menginginkan hal itu. Hal ini sudah terjadi stigma atau sebuah kewajaran kalau pendidikan itu menghasilak uang dan masalahnya lagi uang itu tidak dikembalikan pada dunia pendidikan tapi menjadi bagian dari kapital kekayan dengan cara memperkaya diri dan memiskinkan pendidikan dalam segala hal.

    Untuk itu kalalu kita berbicara masalah pendidikan hendaknya dalam kerangka berpikir bermasa. Bahwa pendidikan itu miliki semua orang dan semua orang berhak untuk terlibat dan merasakan keterlibatannya tanpa kecuali Pak Lurah yang menginginkan keuntungan materi. Dia menjadi bagian pendidikan yang harus dilibatkan dan menjadi bagian dari pendidikan. Karena memang begitu dunia pendidikan semua orang mempunyai peranan dan keterlibatannya selama dia berkata tentang pendidikan.

    Tapi kalau sudah melenceh tidak ada lagi kata tidak enak. Karena semuanya tidak menjadi tidak enak. Lebih baik enak dari pada tidak enak. Karena sesuatu yang enak membuat kita menjadi lebi enak, selama enak itu memberikan rasa enak pada semua orang kenapa tidak diberikan. Karena nanti akan menjadi lebih enak dan lezaaat sekali.

    Pendidikan dibiarkan untuk selalu menampung kehidupan sosial masyarkat. Jadi tidak perlu kita takut bahwa pendidikan diklem orang lain. Hanya saja kalau ada penyala gunaan ini yang perlu diwaspadai. Karena memang demikian dalam kehidupan ini bahwa kehidupan manusia itu saling menjaga, saling mengisi, saling mengkoreksi, saling mensport, saling lindungi, saling mengawasi.

    Karena pendidikan itu memang menjadi sebuah sikap masyarakat pada kependulian dari pendidikan. Tapi memang banyak orang yang menyalagunaan dan mereduksi pendidikan menjadi lahan bisnis bagi semua orang tidak kecuali pemerintahan. Meskipun bertanggung jawab pada peraturan pemerintah dan undang-undang dasar.

    Pendidikan menjadi dunia bisnis ini menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang di lakukan secara struktural. Dan pendidikan itu menjadi bagian dari prodak struktural. Seperti yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, bahwa kemiskinan bangsa ini bukan karena bangsa ini miskin, karena alam dan lingkungan begitu kaya dan melimpah. Jadi kemiskinan bangsa ini dikarenakan kemiskinan struktural yang dibuat sedemikian rupa. Agar melenggangkan kaum kapitalisme dan neolibralisme yang berkolabari dengan hasunya kekuasaan.

    Untuk itu pendidikan harus dikembalikan pada sebuah pengertian yang luhur, membuat semua orang menjadi lebih baik dan senang di dalam melihat kehidupan ini. Untuk selalu termotivasi menjadi orang yang baik dan terbaik. Karena difasilitasi berpikir dengan baik dan merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s