KENANGAN TERINDAH DI MERDEKA


KENANGAN TERINDAH DI MERDEKA

Setiap melewati jalan ini aku senantiasa teringat ada kenangan yang tergores yang tak mungkin kulupakan sepanjang hayatku….. Betapa ketika kejadian 12 tahun yang silam pada akhirnya kini membuahkan hasil dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku dan perjalanan cita-citaku.

Pagi itu……Setelah pelajaran tahfidz aku segera ambil air wudhu untuk selanjutnya sholat dhuha. Ternyata Azizah telah selesai juga tahfidznya dengan Bunda Mala dan mau wudhu juga. “Iza dapat sudah nyampe mana tahfidz mu?” tanyaku iseng. “Alhamdulillah, An-naziat hari ini dapat poin mumtaz, kamu ?” tanya Iza balik. “Sama deh” jawabku semangat. “O, ya habis sholat dhuha istirahat nanti kita main ayunan yuk !,” ajakku ke Azizah. “Yah..kan saung tempat kita biasa berayun sedang rebahan alias rusak…” jawab Azizah lagi.  “Eh itu liat si Reza sedang berayun di pohon pinggir jalan, kayak tarzan yah?.. tapi  tapi , keliahatan asyik juga tuh, boleh deh kita ikut-ikutan….’

Benar saja setelah selesai sholat dhuha, kami berdua segera bergabung dengan Reza, dan ada Fauzan serta Tufapun sudah siap-siap ambil ancang-ancang mau berayun. “Bersyukur ya kita bersekolah di Merdeka Sekolah ini, meskipun sekolahnya seadanya tapi kita jadi banyak mainan. Kita sudah punya prosotan dari rumput, ayunan di saung atau di pintu-pintu,” celotehku pada teman-teman. “Jangan lupa Lu, kitapun bisa setiap waktu main bersama kerbau dan duduk-duduk gratis di atasnya, jadi tak perlu harus ke kebun binatang kayak orang-orang pada naik gajah, mana kerbaunya baik lagi…” kata Tufa. “E..e..e.. ngapain tu si Arifin lari-lari? kayak ada yang sedang dikejarnya…Eh iya, oooo…rupanya dia sedang main kejar-kejaran sama bebek, ayo bebek lari yang kencang! jangan mau kalah sama Ripin..”teriak Reza sambil tergelak mentertawakan Ripin yang kerepotan mengejar bebek.

DSC002611

Kala Aku dan Teman-teman Merdeka Bermain

 

Di sebelah barat sekolah aku melihat Shola, Bintang, Rohim, Fauzi, Dea, Melvi dan yang lain sedang bermain lintas jembatan dari sebilah bambu yang melintang di atas sungai kecil yang baru ada airnya kalau selesai hujan……..Ingatan itu terlintas kembali di benakku… betapa bahagianya aku dan teman-teman bisa bermain meski kondisi sekolah kami sungguh seadanya, walau saat itu status sekolahku masih ngontrak, dan tak tersedia mainan modern yang katanya sebagai sarana tumbuh kembang anak yang biasanya tersedia di sekolah-sekolah yang memang ada “duit”, dan kami dibimbing oleh guru-guru yang sungguh sederhana penampilannya, namun mulia pengabdiannya… . Kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan, dan tak pernah kulupakan hingga kapanpun.

Kini aku telah kuliah di fakultas tehnik arsitektur, dan teman-temanku Azizah mengikuti jejak Umminya ambil kedokteran, Rohim si pemalu ternyata mampu menunjukkan bahwa dia bukan Rohim yang dulu, kini dia kuliah di UI ambil HI, Fauzan si ketua kelas kini kuliah di tehnik mesin ITB, Tufa si pendiam kuliah di psikologi Unpad, Isa adiknya jadi perwira TNI pas bener dengan “pecicilannya” dulu. Ada juga yang kini melanjutkan studi agama Islam  di Kairo si Bintang. Dan masih banyak teman-temanku yang alhamdulillah semuanya pada kuliah dan yang lebih mambuatku bahagia, motto dari sekolah kami dulu yaitu Tumbuh Bersama Al Qur’an benar2 menyusup dalam relung hati kami sehingga insyaAlloh kami bisa menjadi generasi Robbani yang mampu mempertanggungjawabkan amanah yang Alloh berikan kepada kami, dan semoga Alloh meridhoi. Aamiin.

One thought on “KENANGAN TERINDAH DI MERDEKA

  1. RENUNGAN GERAKNYA IHSAN

    Pandangan dan pikiran kadangkal tidak pernah singkron dengan apa yang lihat oleh mata dan hatinya. Begitu juga tidak akan pernah singkron dengan realitas yang sebenarnya. Seperti orang melihat lambu kelab-kelib atau lambu yang bergerak membentuk bintang, huruf, angka seperti di lampu merah atau sesuatu obyek.

    Hal itu juga yang terjadi di dalam kehidupan ini pandangan dan pikiran selalu tidak singkron dengan realitas yang ada. Karena pandangan dan pikiran bukan yang mengukur sesuatu yang menjadi keinginan kita. Tapi hanya sebagai perangkat kita di dalam melihat realitas menjadi sesuatu yang harus kita pikirkan untuk bisa mendekati kenyataan itu.

    Untuk itu tidak heran banyak orang takut pada sebuah kenyataan karena kenyataan itu seolah-olah ada. Seperti ketika orang ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, maka yang muncul adalah sebuah keraguan kalau bukan sebuah ketakutan di dalam pikiran sebagai sebuah kenyataannya.

    Pada hal Abu Bakar dengan begitu saja mengelontarkan uang dan hartanya untuk berjihad. Ketika ditanya Rasullah Saw bagaimana dengan keluarganya, Abu Bakar dengan begitu saja mengatakan bahwa yang memberikan nanti adalah Allah. Allahu Akbar!!!

    Begitu yang terlihat di dalam diri Ihsan anak yang begitu dinamis, bergerak kesana kemari, sehingga dia dikatakan sebagai anak yang tidak bisa diam, tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Iya, memang Ihsan anak yang tidak bisa diam dan tidak bisa konsentrasi dan hanya membuat orang menjadi tarik nafas yang panjang, kalau tidak boleh dibilang kesal dan marah.

    Ihsan anak yang bergerak dalam diam, geraknya seolah-olah mengisyaratkan dia ingin menemukan sesuatu yang belum dia temukan. Ihasan seperti seorang perenung dalam sebuah gerak. Karena banyak merenung itu membuat dirinya tanpa disadari begitu saja begerak kian kemari.

    Ihsan tidak bisa menyelesaikan pelajaran yang diberikan. Karena dia terlalu sibuk merenung dalam geraknya. Untuk mencari sesuatu yang dia rasa memberikan makna dan rasa kepuasan di dalam dirinya.

    Membuat anak ini menjadi sensitif dan peka terhadap permasalahnya yang menurut orang lain biasa. Tapi bagi dirinya menjadi sebuah prinsip. Seperti dia diperlakukan tidak adil oleh temannya, maka dia dengan gigihnya akan memperjuangkannya. Sebelum itu tuntas dan lingkungan tidak mendukungnya, menjadi persoalan tersendiri baginya. Membuat makin kerasnya dia merenung bukan lagi dengan gerak tapi dengan ekspresi dan diam tanpa dia tahu harus bagaiman.

    Ihsan dengan dimanis, kalau boleh dibilang hiperaktif, seperti anak yang tidak perduli dengan lingkungan dan perasaan orang lain. Seperti anak yang tidak tahu diri dan tidak bisa diatur. Karena dia sudah mempunyai aturan sendiri di dalam dirinya yang tidak pernah singkron sama orang lain.

    Dia lari dengan gesitnya. Dia melompat batang bambu yang satu ke yang lain dengan tangkasnya. Dia dengan cepatnya merubah posisi tanpa temanya tahu. Dia dengan mudahnya megerakan tangan di batang pohon berayunan.

    Dengan dengan cepatnya memburu bintang kepik, belalang dan kadal. Dengan waktu singkat binatang itu dilepas dan beralih kepermainan yang lain. Begitulah yang dia lakukan sebuah bagian jiwa yang bergerak di dalam merenungi kehidupan yang dia tidak pernah tahu. Tapi dai jalan dengan gerakannya yang merenung itu.

    Membuat dirinya merasakan kegairah hidup dan semangat untuk menemukan sesuatu, yang tidak pernah dia tahu apa itu sesuatu. Yang jelas dia bergerak dalam merenung dan tanpa jerah dan lelah. Ihsan yang artinya manusia baik, bergerak untuk kebaikan dirinya. Kalau tidak bergerak jadi apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s