Kerbau Disekolahku


Anak Merdeka Bersahabat dengan Siapa Saja
KERBAU DISEKOLAHKU

Sekolahku menjadi rumah kedua bagiku karena disana dapat bermain dengan bebas. Tidak merasakan dilarang, hanya diperingati, hati-hati dan lihat temannya yang lain, atau kalau kepadang rumput pakai sepatu. Membuatku begitu saja tumbuh berkembang sesuai dengan apa yang bergerak di dalam diri ini.

Aku bisa bermain ayunan di saung, aku bisa bermain ayunan di pohon dengan batang pohon yang mengelayut. Pohon juga menjadi tempat favori dari anak-anak Merdeka, mereka sampai membuat tempat duduk dari kayu bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga terbentuklah tempat untuk dua dan tiga orang. Biasanya yang sering naik anak perempuan, entah kenapa mereka menyukai. Seolah ada sesuatu yang membuat mereka begitu menyenangi tempat itu. Pada hal sebelumnya tempat yang menjadi favorit anak-anak adalah pohon pete cina yang tumbang karena kena angin kencang. Dan ada lagi tempat favorit anak-anak adalah sawah, mereka berlari dipematang sawah dengan mengelilingi sawah. Yang diselingi mencari kepik emas. Ditangkap lalu dilepaskan kembali, seolah ada sebuah cerita tersendiri diantara mereka dengan kepik emas itu.

Merdeka sekolah menjadi rumah kedua untuk mengenal diri anak-anak untuk tumbuh dan berkembang. Di mana di depan Merdeka Sekolah itu adalah rawa yang musim kemarau akan susut airnya dan menjadi tempat bermain anak-anak di sana sambil mencari belalang dan kumbang. Namun rasa disisi lainnya tempat pengembalaan kerbau oleh seorang nenek dan kalau cudah bosan di rawa yang sudah kering itu kerbau itu menghampir saung di mana anak-anak bermain dan belajar. Dengan ada kerbau di situ membuat anak-anak makin ingin tahu tentang kerbau sambil dipengang dengan rasa takut dan geli. Tapi kemudian dipegang dan ditunggi sebagai satu keinginan tahunya bagaimana kalau dirinya naik kerbau. Sebuah upaya anak untuk melihat dunia dan sekitar untuk bisa dipahaminya sebagai sebuah realitas yang ada disekitarnya dan menjadi bagian dirinya.

Keasikan anak-anak bermain dengan kerbau, tetap gurunya mengawasi mereka sejauh meraka tidak melakukan hal-hal yang merugikan binatang. Kelihatannya binatang itu begitu akrab dan menikmati bermain dengan anak-anak. Begitu juga dengan anak-anak menikmati tunggangan di atas kerbau.

Merdeka Sekolah memang bukan lembaga pendidikan yang biasa, karena dia mempunyai visi dan misi untuk mengajak semua orang atau elemen masyarakat untuk berperan serta di dalam mengaktualisasikan dirinya, sebagai representasi diri kita sebagai seorang muslim yang menjalani nilai Islam dalam kehidupan yang sebenarnya. Di mana sillaturahi, kerjasama, untuk saling berbagi, untuk saling melengkapi agar diri kita menjadi seorang yang merasakan bagaimana perubahan hidup itu menjadi sesuatu yang bermakna bagi kita dan orang lain. Sekolah dengan pola berbagi ini membuat orang yang disitu untuk selalu berbagi dalam segala hal di dalam memahami kehidupan yang kian hari tidak bisa dimergerti antara yang benar dan yang buruk. Karena banyak sekali hal yang buruk ini menjadi sesuatu yang benar. Seperti orang mengatakan mencari uang yang haram saja susah apa lagi yang halal. Seolah-olah ada justificasi atau pembenaran bahwa itu memang terjadi. Pada hal tidak begitu, tapi itulah realitas kehidupan sebagai bagian dari cobaan semua orang yang beriman dan bertaqwa pada Allah Swt. (Tri Aru)

2 thoughts on “Kerbau Disekolahku

  1. DIBALIK KERAGUAN ROHIM

    Rohim seorang anak yang pendiam,karena sedikit berbicara, kalau memang perlu dia berbicara. Seperti dia bertanya kalau tidak bisa dalam cara pengajaran antara personal. Tapi kalau cara pengajaran klasikal dia hanya diam, kalau bicara ketika ditanya, karena dia harus bicara bukan karena dia ingin bicara.

    Anaknya kecil mungil lamban dalam mengikuti kegiatan. Tapi lambannya Rohim bukan karena dia tidak mau belajar atau tidak ada gairah untuk belajar. Tapi sudah terlalu banyak soal yang dia dapat dari kehidupanya sehari-hari. Sehingga dia harus menjawab soal itu dengan caranya sendiri, kadang berhasil, kadang tidak. Hal itu yang membuat dia selalu ragu-ragu.

    Keraguan di dalam dirinya bukan karena dia tidak mampu mengikuti pelajaran. Keraguannya muncul karena soal kehidupan yang dirasakan tidak begitu singkron dengan apa yang ada di dalam dirinya. Rohim mempunyai keinginan banyak tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Karena secara struktural dia menjadi orang yang tidak berdaya dan tidak diperdayakan. Membuat dirinya merasakan bahwa dia begitu lemah.

    Tapi lagi-lagi wajah keraguan itu selalu dihiasi dengan semangat dan optimistik di dalam melihat kehidupan ini. Hal itu akan terlihat ketika dia merasakan rasa aman di dalam dirinya. Dia mau menulis meskipun dia belum bisa merangkaikan kali. Dia bisa melukis dengan gairah dan semangat yang terpedam, meskipun dia tidak pernah diberikan buku gambar dan pastel. Dia pasip, bila diberikan kertas gambar dan diberikan pastel untuk melukis, dengan begitu lancarnya dia menguraikan dunianya melalui tema yang diberikan.

    Rohim asik melukis, tengelam dalam rasa dan imajinasi yang menghilangkan keraguan dan ketidak berdayaannya. Seolah-olah menemukan jalan yang harus dia lakukan untuk menjawab soal kehidupannya. Karena soal kehidupannya begitu banyak yang harus dijawab. Sehingga dia tidak sempat untuk menjawab soal yang diberikan gurunya untuknya. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena keadaannyalah yang membuat dirinya harus seperti itu.

    Rohim berjalan dengan kalem, langkahnnya tidak segesit temannya. Tapi dia bisa melewati rintangan dipematang sawah, dengan tenangnya dia melombati saluran irigasi yang kering sekering hati dan jiwanya. Dia tidak tahu kenapa kehidupannya seperti itu dan dia juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Pada hal setiap belajar disekolah dia selalu diberikan soal oleh gurunya dan dia tidak bisa menyelesaikan dengan baik. Meskipun dia sudah berusaha, tapi kenyataan usaha itu tidak berbading lurus dengan harap gurunya.

    Rohim kadang tidak masuk dua atau tiga hari, entah kenapa, dia sendiri juga tidak tahu. Meskipun kadang dari rumahnya untuk berangkat sekolah tapi tidak sampai kesekolah, tapi berbelok arah ketempat lain, yaitu rumah saudarannya dekat sekolah. Dan ketika sekolah telah usai dia datang kesekolah untuk bermain dengan temannya tetangga saudarannya.

    Meskipun Rohim juga pernah ketahuan oleh gurunya tidak sekolah karena dia main di sekolah membuat dia malu. Tapi juga dia tidak tahu kenapa tidak sekolah, meskipun pada akhrinya Rohim main juga disekolah dengan temannya dari tetangga saudaranya.

    Apakah ada keinginan untuk sekolah tapi tanpa harus dibebani dengan soal pelajaran. Karena dia sedang menjawab soal kehidupan yang mengelayuti kehidupannya. Dengan cara bermain disekolah, seolah-olah sekolah menjadi sebuah spirit untuk bisa menjadi soal kehidupannya yang dia tidak pernah tahu. Meskipun dia sangat merasakan, sehingga menjadi gerak dan langkahnya yang ditampilkan dirinya pada orang lain.

    Rohim menjadi seorang yang pediam dan peragu, tapi juga dia seorang yang mempunyai keinginan untuk menyelesaikan soal kehidupan dan soal pelajaran yang diberikan. Hanya saja dia mempunayi catatan bahwa apa yang dia jawab sesuai dengan apa yang dia rasakan dan ketahui pada saat itu. Hal hasil dia tidak pernah singkron dengan yang dia jawab dengan pandangan orang lain. Sehingga kelihatnnya dia seorang anak yang lamban.

    Apakah Rohim sama lambannya dengan Albert Eantains waktu kecilnya. Sehingga dia dianggap seorang anak yang tidak mampu mengikuti pelajaran sekolah. Karena dia terlalu banyak berpikir sesuatu yang belum waktunya dia pikirkan.

  2. DIBALIK KERAGUAN ROHIM

    Rohim berkembang sesuai dengan anak pada umumnya. Hanya saja setiap anak pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda. Karakter Rohim pendiam, ragu bukan juga ragu dalam artian yang sebenarnya. Meskipun hal itu bisa dikatakan sesuatu yang sebenarnya. Tapi tidak juga benar sepenuhnya. Hal ini yang harus dipahami di dalam melihat setiap anak.

    Rohim, anak yang tumbuh dan berkembang di dalam situasi kondisi yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang tidak berdaya, penuh dengan keraguan. Seperti negara ini yang selalu ragu di dalam memutuskan permasalahan yang menyangkut kehidupan rakyat kecil.

    Hal itu yang terjadi di dalam kehidupan Rohim, anak yang pendiam, namun dibalik itu dia sedang menjadi sesuatu yang dia sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas bahwa dia sedang menjadi jawaban yang begitu banyak dalam soal kehidupan ini.

    Rohim dengan langkah lambatnya tetap mengikut pelajaran. Dengan susah payah dia membentuk huruf dan merangkai huruf. Seolah dia menghayati bahwa belajar memang memerlukan kesungguh yang harus dilakukan. Yang selama ini tidak pernah yang dia lakukan.

    Rohim dengan pasifnya dia melihat teman-temannya mengambar. Tanpa sepatah katapun dia tidak meminta atau mengeluh pada orang lain dan gurunya. Tapi ketika diberikan kertas gambar dan pastel dia menanyakan judulnya apa, jendela itu terbang. Dengan gerakan tangan yang mungil dan lambat tapi pasti itu. Dia menguraikan dunianya dalam garis dan bentuk yang menurutnya jendela terbang. Begitunya dia membuat komposisi sesuai dengan apa yang ada di dalam diri tanpa harus ragu. Warna menjadi representasi dari intensitasi dirinya di dalam menuangkan perasaan, jiwa dan imajinasinya. Bergerak tanpa keraguan. Seolah keraguan dan diamnya sudah hilang diganti dengan gairah dan semangat untuk menuangkan apa yang menjadi dunia. Apa yang menjadi soal kehidupannya. Tidak ada beban di dalam menuangkannya, karena dia tidak pernah berpikir tentang baik dan buruknya, atau jelek dan bagusnya nilai yang akan dia dapat.

    Rohim sudah berada dalam realitas yang aman bagi didirinya. Untuk bisa menguarai apa yang menjadi soal kehidupannya. Rohim seperti Albert Eantains kecil yang dianggap tidak mempunyai kemampuan di dalam mengikuti pelajaran disekolah. Karena dia terlalu tengelam pada dunianya yang tidak pernah singkron dengan kenyataan ini. Walaupun pada akhrinya dia diakui sebagai ilmuwan abad 20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s