MARI BERGABUNG DI MADRASAH MERDEKA


MADRASAH MERDEKA

Para Guru Berdiskusi di Teras Madrasah Merdeka

Para Guru Berdiskusi di Teras Madrasah Merdeka

Sebuah nama yang sangat heroik. Kata-kata merdeka identik dengan sebuah upaya perjuangan yang melelahkan, penuh pengorbanan hingga akhirnya menemukan sebuah kulminasi keberhasilan yang disebut Kemerdekaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat kita temukan bahwa arti kata merdeka adalah: 1) bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb., berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Sedangkan kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi); kebebasan.
Beranjak dari terminologi kebahasaan tersebut, maka terlahir gagasan-gagasan liar yang mengembara pada level akal hingga akhirnya tertemukan oleh perbincangan dan bermuara pada mufakat untuk mengangkat kata Merdeka dalam dunia pendidikan dengan pemaknaan dasar ‘bebas belajar, berpendidikan dari tekanan dan berbagai hal semata belajar dan berpendidikan hanya untuk Alloh’.
Dengan berlambarkan beberapa insan kerdil, panca jiwa bersatu untuk berbuat sesuatu dengan nawaitu semoga bisa memberikan manfa’at kepada orang lain dengan Izin Alloh SWT. ‘Semesta Langit Biru’ sebuah sarana ritual administratif organisasi akhirnya lahir sebagai wadah kirpah Sekolah Merdeka dan serenteten aktivitas penunjang lainnya.
Memang Kemerdekaan membutuhkan perjuangan, perjuangan untuk saling bisa memahami, menundukkan diri, mengerti orang lain dan akhirnya berbuat. Sekolah besar yang sederhana itu akhirnya lahir disebuah gubuk pendidikan dengan lebel (Rumah Kontrakkan). Ini ciri dari apa yang disebut Merdeka, bahwa sekolah harus dibentengi oleh dinding ruang kelas maka terdobrak oleh sekolah tanpa batas ruang empiris. Sekolah Merdeka tetep menggunakan ruang namun ruang yang merdeka.
Setelah bertengkus lumus dengan birokrasi pendidikan dan administrasi kearsipan, akhirnya diawal 2009 logo Merdeka Sekolah lahir dengan simbol tangan yang terkepyar menandakan kebebasan, dan menandakan kelahiran sang bayi, lahir dengan tangan yang mengepyar. Akhirnya 20 anak bangsa dari beragam kemerdekaan terkumpulkan untuk babat bersama untuk berbuat lebih baik dengan azas kemerdekaan. Belajar merdeka, berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan sejati, memerdekakan diri dari segala penghambaan yang salah.
Sekolah Merdeka ingin menatap Pendidikan Inovatif Berbasis Al-Qur’an dengan cara Berbagi. Sekolah Merdeka adalah milik siapa saja yang merdeka, untuk
mewujudkankemerdekaan yang sejati. Selamat Bergabung dengan Sekolah Merdeka.

3 thoughts on “MARI BERGABUNG DI MADRASAH MERDEKA

  1. Assalammualaikum Wr.Wb. pak Aru….. saya juli atuti, ingin rasanya saya kembali ke Agniya ilman yang dulu lagi…. bisa bereksplorasi dan berkreatifitas lagi membangun pendidikan yang berkarakter dan menciptakaan anak didik sebagai peneliti dan penemu. yang nantinya siswa didik kita dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri bukan sebagai buruh kantoran, jadi sedih jika melihat kondisi dunia pendidikan di negeri ini, Menjamurnya institusi pendidikan yang mencetak anak didik menjadi buruh kantoran, bukan sebagai pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi sekitarnya. karena pola buruhlah, segala macam hafalan dijejalkan kepada anak murid. dan semuanya hanya demi satu kata IJAZAH! ya ijazah, ijazah dan ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Tugas mendidik bukan mentransfermpengetahuan semata melainkan mampu melatih peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap sesama. lihat saja, bagaimana kebutuhan peserta didik yang direduksi melalui rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan silabus yang sudah di bakukan. sehingga guru seakan hanya menjadi pelayan alat kekuasaan negara tanpa melihat sisi humanis seorang guru, yaitu sebagai pendidik. hal ini menyebabkan otoritas guru tak lagi menjadi kekuatan dalam memberikan makna pendidikan kepada peserta didik. sehingga guru hanya dianggap sebagai pelayan saja .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s